TANJUNGPINANG — Kepala BP3MI Kepri Kombes Pol Imam Riyadi menyebutkan, progres pengiriman PMI dari Kepri terus bertambah dari tahun ke tahun. “Artinya, progres pengiriman PMI secara legal dari Kepri terus meningkat dari tahun ke tahun,” katanya di Tanjungpinang, Sabtu.
Ribuan PMI itu bekerja di sektor formal dan informal. Contohnya perawat di sektor formal, sementara di sektor nonformal meliputi tukang kebun, sopir truk, anak buah kapal (ABK), pariwisata, hingga welder atau tukang las. Negara tujuan mereka antara lain Malaysia, Singapura, Jepang, Kepulauan Solomon, dan Maladewa.
Menurut Imam, warga Kepri memiliki keunggulan sumber daya manusia yang tidak dimiliki daerah lain, khususnya di bidang welder, tenaga kesehatan, dan ABK. “Peluang warga Kepri untuk bekerja di luar negeri sangat besar,” ujarnya.
Untuk memenuhi permintaan pasar global, BP3MI Kepri bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) setempat. Salah satu upayanya dengan mengoptimalkan Balai Latihan Kerja (BLK) dan menjalin kemitraan dengan satuan pendidikan, dari SMK hingga perguruan tinggi.
BP3MI juga menyiapkan program SMK Go Global guna mencetak lulusan yang siap bekerja ke luar negeri. Selain itu, pelatihan peningkatan kompetensi pekerja lokal terus digalakkan supaya berdaya saing global.
Imam mengimbau masyarakat agar tidak tergiur tawaran kerja bergaji besar tanpa prosedur resmi. “Kita juga menyiapkan program SMK Go Global guna mencetak lulusan yang siap bekerja ke luar negeri,” kata dia.
BP3MI Kepri menyediakan layanan Migran Center, pusat informasi prosedur dan peluang kerja resmi ke luar negeri. Layanan ini juga untuk mencegah penempatan PMI ilegal dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Masyarakat bisa mengaksesnya di mitra perguruan tinggi BP3MI, seperti Politeknik Negeri Batam dan Batam Tourism Polytechnic (BTP).
“Atau bisa datang langsung ke kantor BP3MI Kepri di Tanjungpinang. Kami siap membantu PMI yang hendak bekerja ke luar negeri secara prosedural,” ujar Imam.
Dia menambahkan, penempatan PMI di luar negeri bermanfaat bagi daerah asal melalui pengiriman uang (remitansi). Dana dari PMI menjadi motor penggerak finansial yang krusial bagi daerah-daerah kantong penempatan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga secara langsung.