TANJUNGPINANG — BP3MI Kepri menyatakan bahwa hasil survei penjaringan peserta peningkatan kapasitas menunjukkan adanya pasokan CPMI yang besar, yakni 2.089 orang. Angka itu menjadi modal untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil di luar negeri, terutama di sektor formal yang terus berkembang.
Sebagian besar calon pekerja migran tersebut berasal dari lulusan vokasi yang dibekali keterampilan spesifik. Kombes Pol Imam Riyadi menjelaskan, wilayah Kepri memiliki keunggulan di bidang pengelasan karena maraknya industri galangan kapal di Batam, serta sektor perhotelan dan pariwisata yang sudah mapan. “Juga ada pelaut migran di wilayah perbatasan,” ujarnya dalam keterangan di Tanjungpinang, Sabtu.
Untuk menjamin penempatan prosedural dan mencegah Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), BP3MI Kepri mengembangkan program Desa Migran Emas. Hingga kini sudah terbentuk empat desa: Teluk Sasah, Pangke, Pangke Barat, dan Tanjung Berlian Barat. “Ke depan kami persiapkan sepuluh desa tambahan untuk mengadopsi program serupa,” kata Imam.
Konsep desa ini menjadi pusat informasi dan edukasi bagi masyarakat agar tidak tergiur jalur nonprosedural yang rawan eksploitasi. Program juga dirancang sebagai benteng perlindungan sejak dari kampung halaman.
BP3MI Kepri telah menandatangani delapan Nota Kesepahaman (MoU) dengan berbagai SMK. Selain itu, mereka bekerja sama dengan Batam Tourism Polytechnic (BTP) dan Politeknik Negeri Batam sebagai dua Migrant Center utama. “Ini adalah peluang besar sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan untuk melakukan link and match dengan kebutuhan global,” tegas Imam.
Pendampingan e-Vokasi bagi SMK juga dilakukan bersama KP2MI agar lembaga vokasi di Kepri terdaftar di sistem. Dengan begitu, akses pelatihan dan penghubungan CPMI ke pasar kerja menjadi lebih mudah.
Saat ini BP3MI Kepri telah mendapatkan kuota 100 PMI untuk mengikuti pelatihan dan sertifikasi khusus. Program ini ditujukan untuk mendukung penempatan pekerja migran Indonesia yang profesional. Para peserta akan mendapat pelatihan sesuai standar internasional, seperti las, perhotelan, dan navigasi pelaut.
Kombes Pol Imam Riyadi mengingatkan bahwa target KP2MI sebesar 500.000 PMI didominasi tenaga kerja formal terampil. Komposisinya 300.000 dari lulusan vokasi dan 200.000 dari lulusan umum. “Ini tanggung jawab bersama, bukan hanya BP3MI tapi juga institusi pendidikan dan pemerintah daerah,” ujarnya.
Untuk memperkuat ekosistem, BP3MI Kepri berkolaborasi dengan Polda Kepri, Diskominfo, dan forum Sosial Ekonomi Malaysia Indonesia (Sosek Malindo). Gerakan Nasional Migran Aman digalakkan agar penempatan berlangsung aman dan TPPO bisa ditekan di wilayah perbatasan.