ANAMBAS — Suara berderak di malam hari sempat dianggap Nora sebagai atap asbes yang tertiup angin. Namun, keesokan paginya, rumah satu-satunya yang diwariskan orang tuanya itu sudah rata dengan air laut, menyisakan puing yang hanyut di bibir pantai Desa Nyamuk.
Peristiwa yang terjadi pada Selasa (4/8/2026) itu membuat Nora, yang sehari-hari menggantungkan hidup dari berjualan kue keliling, kehilangan tempat pulang dalam hitungan detik. Kabar dari tetangga membuatnya sempat tak percaya, hingga ia melihat sendiri lokasi rumahnya yang kini hanya tersisa pecahan kayu dan asbes.
Bagi Nora, rumah tersebut adalah simbol perjuangan keluarganya. Di sanalah ia membesarkan dua anaknya dan menyimpan harapan akan masa depan yang lebih baik. Kini, harapan itu ikut tenggelam bersama tiang-tiang penyangga yang tak mampu lagi menahan beban.
“Untuk sementara mungkin saya tinggal di rumah orang tua. Tapi saya berharap ada bantuan dari pemerintah. Selama ini rumah saya belum pernah mendapat bantuan rehabilitasi maupun program bedah rumah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Musibah ini membuka fakta lain: masih banyak rumah warga di kawasan pesisir Anambas yang berdiri di atas lahan rapuh dan belum terjangkau program bantuan perumahan pemerintah. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah untuk mendata ulang permukiman yang berisiko tinggi.
Di tengah duka yang menyelimuti, Nora tetap harus memikirkan hari esok. Ia masih harus berkeliling menjajakan kue setiap pagi demi memenuhi kebutuhan keluarga, meski kini tak ada lagi rumah yang menunggu kepulangannya. Ia hanya bisa berharap ada uluran tangan yang membantunya bangkit dan kembali memiliki tempat yang layak disebut rumah.