JAKARTA — Proses diplomasi Timur Tengah kembali memasuki babak penting. Putaran baru perundingan antara Israel dan Lebanon yang dimediasi Amerika Serikat digelar di Roma, Italia, sejak Selasa (4/8). Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, mengonfirmasi agenda pembicaraan yang mempertemukan tim teknis kedua negara tersebut akan berlangsung hingga 6 Agustus mendatang.
"Pembicaraan terbaru yang difasilitasi AS antara Israel dan Lebanon dimulai hari ini di Roma dan akan berlangsung hingga 6 Agustus," ujar Pigott melalui akun X resminya.
Perundingan ini bukanlah agenda dadakan. Kedua negara melanjutkan penerapan kerangka kerja trilateral yang telah disepakati sebelumnya. Kerangka tersebut menjadi peta jalan bagi sejumlah isu sensitif yang selama ini menjadi ganjalan hubungan kedua negara.
Beberapa poin penting yang masuk dalam kerangka kerja itu meliputi:
Washington menegaskan dukungan penuhnya terhadap proses negosiasi yang berlangsung di Roma. Posisi AS dinilai krusial sebagai penengah di tengah tingginya ketegangan dan ketidakpercayaan antara Tel Aviv dan Beirut.
"Amerika Serikat tetap berkomitmen penuh untuk mendukung kedua pemerintah dalam melanjutkan proses ini dengan cara yang menjamin keamanan jangka panjang bagi kedua negara," tambah Pigott dalam pernyataannya.
Pernyataan tersebut juga menekankan dua tujuan utama yang ingin dicapai dari perundingan ini. Pertama, menghilangkan ancaman keamanan terhadap Israel. Kedua, memulihkan otoritas negara Lebanon di seluruh wilayah selatan yang selama ini kerap menjadi basis operasi kelompok bersenjata.
Keberhasilan perundingan ini akan berdampak signifikan pada stabilitas kawasan, mengingat konflik di perbatasan Israel-Lebanon kerap memicu eskalasi yang lebih luas di Timur Tengah.