Kemenkes Buka Suara soal Pasien BPJS Yurizal Tunggu 8 Jam di IGD RSCM Sebelum Meninggal

Penulis: Binsar Gultom  •  Sabtu, 08 Agustus 2026 | 13:34:01 WIB
Pasien BPJS Yurizal menunggu delapan jam di IGD RSCM sebelum meninggal dunia, Kemenkes menelusuri kronologi pelayanan.

KEPULAUAN RIAU — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan sedang menelusuri kronologi pelayanan terhadap almarhum Yurizal, pasien BPJS Kesehatan yang mengaku menunggu hingga delapan jam di IGD RSCM Jakarta sebelum meninggal dunia. Juru bicara Kemenkes menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan direksi RSCM untuk mendapatkan laporan lengkap terkait kejadian tersebut.

"Kami sedang memeriksa apakah ada pelanggaran standar pelayanan atau kelalaian dalam penanganan pasien. Evaluasi menyeluruh dilakukan, termasuk soal kapasitas ruang rawat inap dan alur rujukan," ujar pejabat Kemenkes yang enggan disebutkan namanya saat dikonfirmasi, kemarin.

Kronologi Curhat yang Berujung Cibiran Nakes

Sebelum meninggal, Yurizal sempat membagikan keluhannya melalui akun Threads pribadinya. Ia mengaku menunggu lama untuk mendapatkan ruang perawatan, namun tidak menyebutkan nama rumah sakit dalam unggahan pertamanya. Unggahan tersebut justru memicu reaksi negatif dari sebagian kalangan tenaga kesehatan yang menudingnya tidak sabar atau tidak memahami situasi IGD.

Setelah kabar duka tersebar dan identitas rumah sakit terungkap, gelombang kritik berbalik arah. Publik menilai respons nakes yang mencemooh keluhan pasien tersebut tidak empatik, terlebih kondisi Yurizal disebut dalam keadaan kritis saat menunggu ruang perawatan.

Kemenkes Instruksikan Audit Kapasitas dan Alur Rujukan

Kemenkes tidak hanya menyoroti aspek komunikasi, tetapi juga mekanisme teknis di rumah sakit. Instruksi audit difokuskan pada tiga hal: pertama, sistem informasi ketersediaan tempat tidur; kedua, kecepatan verifikasi administrasi pasien BPJS; ketiga, koordinasi antarunit di RSCM yang merupakan rumah sakit rujukan nasional dengan beban pasien tinggi.

RSCM sendiri dikenal sebagai tujuan akhir rujukan untuk kasus-kasus kompleks dari berbagai daerah. Lonjakan pasien rujukan kerap membuat IGD penuh, namun pihak manajemen sebelumnya menyatakan telah menerapkan sistem triase untuk memprioritaskan pasien gawat darurat.

Menanggapi kasus ini, pengamat kebijakan kesehatan menilai kejadian ini menunjukkan persoalan klasik yang belum tuntas: ketimpangan distribusi fasilitas kesehatan dan kuota ruang rawat inap kelas tiga yang kerap penuh. Peristiwa ini juga menyoroti tekanan psikologis yang dialami nakes di fasilitas kesehatan padat, yang kemudian berdampak pada kualitas komunikasi dengan pasien.

Keluarga Minta Maaf dan Desak Perbaikan Sistem

Di tengah polemik cibiran nakes, pihak keluarga almarhum justru menyampaikan permintaan maaf apabila unggahan tersebut menyinggung pihak rumah sakit. Namun, keluarga juga mendesak agar kasus ini menjadi pelajaran untuk perbaikan layanan, khususnya bagi pasien pengguna BPJS.

"Kami tidak ingin mencari-cari kesalahan, tapi kejadian ini harus jadi bahan evaluasi agar tidak ada lagi pasien yang bernasib seperti almarhum. Delapan jam menunggu di IGD dalam kondisi sakit adalah durasi yang sangat panjang," kata perwakilan keluarga dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi.

Hingga berita ini diturunkan, pihak RSCM belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait hasil investigasi internal. Kemenkes menjanjikan akan merilis temuan awal dalam pekan ini, termasuk langkah perbaikan jangka pendek untuk mengurangi waktu tunggu pasien rujukan di IGD.

Reporter: Binsar Gultom
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top