BINTAN — Ratusan peserta yang tergabung dalam Forum Anak Kabupaten Bintan, PATBM, dan PUSPAGA Bahtera Bintan berjalan kaki dari Taman Relief Antam menuju Pasar Berdikari Kijang. Sepanjang rute, mereka membagikan selebaran berisi langkah pencegahan kekerasan dan nomor pengaduan kepada warga yang ditemui.
Aksi ini bukan sekadar seremoni. Kampanye dirancang menyentuh masyarakat langsung di titik keramaian, mengingatkan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak kerap terjadi di lingkungan terdekat.
Sebelum long march, perwakilan Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Kepolisian, Kecamatan Bintan Timur, hingga PMI Kabupaten Bintan membacakan deklarasi penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Keterlibatan lintas sektor ini menunjukkan penanganan kasus tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri.
"Perlindungan terhadap perempuan dan anak adalah tanggung jawab bersama. Kita ingin memastikan mereka mendapatkan naungan yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan agar masa depan Kabupaten Bintan semakin cemerlang," ujar Aryati.
Aryati menjelaskan, istilah payung teduh dipilih untuk menggambarkan lingkungan yang melindungi tumbuh kembang anak dan keamanan perempuan. Menurutnya, rasa takut akibat kekerasan akan menghambat generasi muda berprestasi.
Pesan kunci yang disuarakan dalam kampanye ini sederhana: jangan diam. Masyarakat diminta berani melapor jika mengetahui potensi atau tindakan kekerasan. Kepedulian lingkungan sekitar menjadi kunci sistem perlindungan yang kuat.
Kegiatan ini diharapkan menumbuhkan kesadaran berkelanjutan di tengah masyarakat Bintan, bukan berhenti setelah acara usai. Dengan kolaborasi yang terus diperkuat, ruang tumbuh yang aman bagi perempuan dan anak di kabupaten ini diharapkan semakin nyata.