Tiga Tahun Binaan BI Kepri, BUMDes Karya Mandiri di Batam Kini Pasok Tepung Sagu ke Tanjungpinang

Penulis: Maruli Sinaga  •  Selasa, 11 Agustus 2026 | 22:53:31 WIB
Tepung sagu produksi BUMDes Karya Mandiri Desa Panggak Laut, Batam, kini dipasok ke Batam dan Tanjungpinang setelah tiga tahun pembinaan Bank Indonesia Kepri.

BATAM — Tepung sagu produksi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karya Mandiri asal Desa Panggak Laut tak lagi hanya memenuhi kebutuhan warga setempat. Produk dengan kemasan 1 kilogram itu kini rutin dipasok ke sejumlah wilayah di Kepulauan Riau, termasuk Batam dan Tanjungpinang, menyusul penguatan kapasitas produksi yang difasilitasi Bank Indonesia (BI) Kepri.

Direktur BUMDes Karya Mandiri, Mawardi, menyebut pendampingan yang berjalan sejak tiga tahun lalu itu menjadi fondasi utama keberlanjutan usaha. Menurutnya, tanpa suntikan modal dan peralatan dari bank sentral, proses produksi tepung sagu di desanya kemungkinan besar masih berjalan terbatas.

“Alhamdulillah, dukungan dari Bank Indonesia luar biasa. Kami sangat terbantu, terutama dari sisi permodalan. Tanpa dukungan ini, usaha kami mungkin belum bisa berjalan seperti sekarang,” ujar Mawardi, Selasa (11/8/2026).

Hibah Peralatan Packing Dongkrak Kualitas Produk

Bantuan yang diberikan BI Kepri tidak terbatas pada perputaran modal usaha. Sejumlah aset berupa peralatan produksi dan pengemasan juga telah diserahkan kepada pengelola BUMDes untuk meningkatkan standar produk.

Mawardi mengungkapkan, keberadaan mesin pendukung tersebut berdampak langsung pada kualitas tepung sagu yang dihasilkan. Proses pengemasan yang lebih baik membuat produk lebih tahan lama dan layak dipasarkan ke luar desa.

“Selain modal, kami juga dibantu alat-alat, termasuk untuk packing. Ini sangat membantu kami meningkatkan kualitas produk,” tambahnya.

Produksi Masih Tergantung Cuaca

Meski akses pasar semakin luas, proses produksi tepung sagu di Desa Panggak Laut masih menghadapi tantangan klasik. Pengeringan bahan baku hingga saat ini masih mengandalkan sinar matahari, sehingga waktu produksi sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Dalam situasi normal, proses pengeringan membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua hari sebelum sagu siap digiling menjadi tepung. Ketergantungan pada panas matahari ini membuat kapasitas produksi BUMDes belum bisa dipacu maksimal untuk mengejar permintaan pasar yang terus meningkat.

Kendala tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pengembangan usaha ke depan. BI Kepri melalui program pembinaannya diharapkan dapat mendorong adopsi teknologi pengeringan modern agar volume produksi tidak lagi fluktuatif.

Harga Tepung Sagu Rp 5.000 per Kilogram

Saat ini, BUMDes Karya Mandiri memasarkan tepung sagu dalam kemasan 1 kilogram dengan banderol harga sekitar Rp 5.000 per kemasan. Distribusi produk dilakukan secara bertahap, menyesuaikan dengan permintaan dari para pembeli di Batam dan Tanjungpinang.

Keberadaan pasar antar kota ini menjadi indikator bahwa komoditas lokal seperti sagu memiliki nilai tambah yang nyata jika dikelola dengan manajemen yang baik. Penguatan usaha desa semacam ini dinilai sejalan dengan upaya pemerintah mendorong kemandirian ekonomi dari tingkat akar rumput.

Program pembinaan yang dijalankan BI Kepri terhadap BUMDes Karya Mandiri merupakan bagian dari strategi penguatan sektor usaha mikro dan ekonomi desa di wilayah Kepulauan Riau. Melalui kombinasi akses pembiayaan, hibah aset, dan pendampingan manajemen, BUMDes diharapkan mampu menjadi motor penggerak perekonomian desa serta membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat secara lebih luas.

Reporter: Maruli Sinaga
Sumber: batamstraits.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top