KEPULAUAN RIAU — Pelatihan ini berlangsung di Aula Ahmad Yani, Makodam Jaya, dan merupakan hasil kolaborasi antara Asabri, Kodam Jaya, serta Alunjiva Indonesia. Materi yang diberikan mencakup Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), digital marketing, dan keterampilan menjadi content creator.
Sekretaris Perusahaan Asabri, Okki Jatnika, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar pemberian materi, melainkan upaya membuka akses setara bagi seluruh peserta. "Kami meyakini bahwa setiap peserta memiliki potensi untuk terus tumbuh, berkarya, dan memberikan kontribusi ketika memperoleh akses, kesempatan, serta dukungan yang setara," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (15/8/2026).
Okki menjelaskan, penguasaan teknologi digital saat ini menjadi gerbang utama untuk mengembangkan kreativitas dan beradaptasi dengan zaman. Melalui PELITA, Asabri ingin memastikan para prajurit disabilitas tidak tertinggal dan memiliki bekal untuk bersaing di era ekonomi digital.
Program ini diharapkan membuka peluang baru yang mendukung aktivitas produktif peserta. Dengan kemampuan yang relevan, mereka dapat menyalurkan potensi dan minatnya melalui kanal-kanal digital yang semakin luas terbuka.
Salah satu peserta, Peltu Kaspari dari Kodim 0507 Bekasi, merasakan langsung manfaat pelatihan digital marketing ini. Ia mengaku mendapat wawasan baru yang selama ini belum pernah diperolehnya.
"Kesan yang sangat luar biasa dengan program pelatihan ini. Program ini menambah ilmu dan memberikan wawasan dalam tingkat dasar. Setidaknya kami punya kemampuan untuk berkembang lebih baik. Terima kasih Asabri dan Alunjiva," tutur Peltu Kaspari.
Inisiatif ini sejalan dengan komitmen Asabri untuk memperkuat pemberdayaan peserta tidak hanya melalui pengelolaan dana, tetapi juga peningkatan kualitas hidup. Dengan membekali prajurit disabilitas keterampilan yang aplikatif, BUMN asuransi sosial ini berharap mereka dapat tumbuh mandiri dan berkontribusi bagi masyarakat.
Ke depan, Asabri membuka peluang untuk memperluas program serupa di lingkungan TNI lainnya. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa pemberdayaan yang inklusif dapat diwujudkan melalui kolaborasi dan relevansi terhadap kebutuhan zaman.