KEPULAUAN RIAU — Laga pekan pertama ini berjalan sengit sejak menit awal. Suporter tuan rumah tak henti melontarkan ejekan kepada tim tamu, yang musim lalu tersingkir dari babak playoff setelah ketahuan melakukan pengintaian ilegal terhadap sesama kontestan. Atmosfer panas itu justru memacu performa Watford yang tampil percaya diri di hadapan pendukung sendiri.
Watford membuka keunggulan pada menit ke-12 melalui aksi individu Iker Bravo. Pemain pinjaman dari klub "saudara" Udinese ini memenangkan duel udara di tengah lapangan, lalu mengontrol bola dengan sentuhan kaki, berputar, dan menusuk ke kotak penalti sebelum melepaskan tembakan rendah yang gagal dihalau kiper Daniel Peretz.
Keunggulan bertambah pada menit ke-29. Amin Nabizada, pemain jebolan akademi Watford berusia 19 tahun, memanfaatkan celah di sisi kiri pertahanan Southampton. Ia membawa bola dari tengah lapangan dan menyelesaikannya dengan tembakan akurat dari sudut sempit. "Nabizada tampil emosional, tapi setelah 10 menit pertama dia bermain bagus," ujar pelatih Watford, Alessio Dionisi, yang menangani tim asal Italia ini setelah semusim melatih Empoli di Serie B.
Tertinggal dua gol, Southampton meningkatkan intensitas serangan di babak kedua. Upaya mereka membuahkan hasil pada menit ke-56. Umpan silang Cam Bragg diselesaikan dengan baik oleh Cyle Larin menjadi gol. Dua menit kemudian, Larin hampir menyamakan kedudukan lewat tembakan berbalik badan, tetapi kiper anyar Watford, Federico Ravaglia, bereaksi cepat menepis bola.
Peluang emas lainnya datang dari Finn Azaz yang masuk sebagai pemain pengganti. Tembakan mendatarnya dari dalam kotak penalti masih melebar tipis di sisi kiri gawang. Eckert mengakui timnya sempat mendominasi, tetapi gagal memanfaatkan peluang. "Kami kehilangan dua bola yang berujung gol. Di luar itu, saya cukup puas dengan performa tim," kata Eckert, yang menegaskan skuadnya tetap kompak meski tengah dilanda badai investigasi.
Kemenangan ini menjadi modal berharga bagi Watford yang tengah dalam masa transisi. Sebelum laga, klub memberikan penghormatan kepada Kenny Jackett, legenda satu-klub yang mendapat tepuk tangan meriah dari seluruh penonton. Adegan itu kontras dengan kondisi manajemen klub yang kini menunjuk Dionisi sebagai pelatih tetap ke-12 dalam lima tahun terakhir.
Di sisi lain, kekalahan ini memastikan perjalanan Southampton di Championship musim ini akan terus diiringi teriakan "Spygate" dari para pendukung lawan. "Kelompok kami sangat dekat dan bersatu. Kami punya ekspektasi berbeda untuk hasil ini, tapi kami harus mengubah energi negatif itu menjadi sesuatu yang positif mulai pekan depan," tutur Eckert. Adapun Dionisi menegaskan kemenangan ini lahir dari kerja sama tim, bukan hanya kualitas individu. "Saya suka mentalitas para pemain. Di setiap momen, saya melihat satu tim bekerja sama," pungkasnya.