Jakarta – Sebanyak 137 dari 141 titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terpantau di berbagai wilayah telah ditangani Kementerian Pekerjaan Umum (PU) hingga 21 Agustus 2026, berdasarkan rekapitulasi Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA). Angka itu setara dengan 97,2 persen dari total titik api yang tersebar, sejalan dengan upaya mitigasi dampak El Nino dan musim kemarau tahun ini.
Dukungan penanganan difokuskan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, yang dinilai memiliki potensi kebakaran lahan tertinggi selama periode kering. Langkah ini dijalankan sesuai tugas dan kewenangan Kementerian PU, terutama melalui penguatan sumber daya air dan peralatan untuk membantu pemerintah daerah serta satuan tugas penanggulangan karhutla di lapangan.
Di Kelurahan Petuk Katimpun, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kementerian PU mendistribusikan pasokan air sebanyak 4.000 liter menggunakan satu unit mobil tangki air milik Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Kalimantan Tengah. Air tersebut dipakai untuk mengisi satu unit truk mobil pemadam dan disalurkan bersama tim Satgas yang terlibat dalam operasi pemadaman.
Sementara itu, di kawasan Kampus UPR Gedung Merah Putih, Tunjung Nyaho, Jalan Hendrik Timang, Palangka Raya, dengan luas lahan terbakar sekitar 3 hektare, Kementerian PU mengerahkan satu unit mobil tangki air dalam dua kali pendistribusian. Total 8.000 liter air disalurkan untuk mendukung BPBD dalam proses pemadaman di lokasi tersebut.
Untuk mempercepat operasi di lapangan, Menteri PU Dody Hanggodo menyiapkan dan mengerahkan berbagai peralatan, antara lain pompa Alkon, mobile pump, mobil tangki air, dan excavator. Peralatan ini digunakan untuk memasok air ke lokasi kebakaran maupun mendukung operasi pemadaman bersama pemerintah daerah dan tim satuan tugas yang berada di lapangan.
Dody menegaskan bahwa peningkatan kesiapsiagaan terus dilakukan melalui penguatan koordinasi lintas sektor serta penyediaan infrastruktur dan sumber daya pendukung yang dibutuhkan di lapangan.
"Kementerian PU tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memastikan infrastruktur tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung penanggulangan bencana, menjaga ketersediaan air, melindungi lingkungan, serta menjamin keselamatan masyarakat," kata Menteri Dody.
Sepanjang musim kemarau, Dody memastikan kesiapsiagaan akan terus berlanjut dengan mengoptimalkan sumber daya air, peralatan, serta personel di lapangan. Langkah ini menjadi komitmen Kementerian PU untuk mendukung pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana sesuai tugas dan kewenangan.
Melalui upaya tersebut, Dody Hanggodo tidak hanya berupaya memastikan ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat di tengah kondisi kering, tetapi juga membantu mempercepat penanganan titik-titik karhutla sehingga risiko meluasnya kebakaran dapat ditekan serta dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan dapat diminimalkan.