Kepolisian Resor Kepulauan Anambas melepasliarkan 220 tukik ke laut di wilayah Pulau Pahat untuk menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Kegiatan bersama Bhayangkari Cabang Kepulauan Anambas itu juga diisi penanaman 25 pohon ketapang dan aksi bersih pantai yang mengumpulkan 5,3 kilogram sampah. Kapolres Kepulauan Anambas AKBP Misbachul Munir mengajak warga ikut menjaga kelestarian penyu dengan tidak mengambil telur maupun mengonsumsi dagingnya.
ANAMBAS — Pelepasliaran 220 tukik dilakukan Polres Kepulauan Anambas bersama Bhayangkari Cabang Kepulauan Anambas pada Kamis pagi di wilayah Pulau Pahat. Selain mengembalikan tukik ke habitatnya, rangkaian kegiatan konservasi ini mencakup penanaman 25 pohon ketapang dan aksi bersih pantai.
Dari aksi bersih pantai tersebut, petugas dan peserta mengumpulkan 5,3 kilogram sampah. Angka itu menjadi gambaran konkret beban sampah yang masih menumpuk di kawasan pesisir Anambas.
Kapolres Kepulauan Anambas AKBP Misbachul Munir menyatakan pelepasliaran tukik merupakan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan populasi penyu. Menurutnya, penyu memiliki peran penting dalam rantai ekosistem laut dan pesisir.
"Menjaga alam bukan hanya tentang apa yang kita lakukan hari ini, tetapi bagaimana kita memastikan lingkungan tetap terjaga untuk anak cucu kita," ucap Misbachul saat dikonfirmasi dari Bintan.
Ia menekankan bahwa kelestarian penyu tidak bisa hanya bergantung pada kegiatan seremonial. Partisipasi warga sehari-hari menjadi penentu apakah populasi penyu di perairan Anambas tetap bertahan.
Misbachul mengingatkan warga agar tidak mengambil telur penyu maupun mengonsumsi dagingnya. Praktik tersebut, kata dia, masih menjadi ancaman utama bagi populasi penyu di sejumlah kawasan pesisir.
"Jangan mengambil telur penyu ataupun mengonsumsi dagingnya. Jika melihat adanya penyu atau telur penyu yang diambil, segera laporkan kepada pihak berwenang agar dapat ditangani sesuai ketentuan," ujar dia.
Imbauan itu disampaikan langsung kepada masyarakat yang tinggal di sekitar pantai penangkaran. Pelaporan dini dinilai penting agar penanganan bisa dilakukan sebelum telur penyu berpindah tangan.
Ketua Bhayangkari Cabang Kepulauan Anambas, Dama Munir, menyebut kepedulian terhadap lingkungan bisa dimulai dari kebiasaan sederhana. Menjaga kebersihan pantai dan tidak membuang sampah sembarangan masuk dalam kategori itu.
Menurut Dama, langkah-langkah kecil tersebut berdampak langsung pada kebersihan dan keberlangsungan ekosistem pesisir. Ia juga menyoroti keberadaan satwa sebagai bagian penting dari ekosistem yang harus dijaga bersama.
"Kita harap masyarakat tidak mengganggu satwa yang berada di habitatnya," ujar dia.
Dengan pelibatan Bhayangkari dan warga sekitar, kegiatan di Pulau Pahat diharapkan tidak berhenti pada satu pagi. Penanaman pohon ketapang dan pembersihan pantai menjadi penanda bahwa konservasi penyu di Anambas menuntut perawatan berkelanjutan, bukan hanya pelepasliaran sesaat.