Nokia Raup Rp 39 Triliun dari Lisensi Paten Ponsel Tanpa Jual HP

Penulis: Ronal Siregar  •  Jumat, 25 September 2026 | 14:07:31 WIB
Nokia Technologies mencatat penjualan bersih USD 2,2 miliar dari bisnis lisensi paten ponsel sepanjang 2024.

KEPULAUAN RIAU — Nokia Technologies mencatatkan penjualan bersih USD 2,2 miliar (setara Rp 39 triliun) sepanjang 2024 dari bisnis lisensi paten ponsel, naik 78% dibanding USD 1,3 miliar pada 2023. Lonjakan ini didorong kesepakatan lisensi baru dengan Oppo, Vivo, dan Apple, meski Nokia sudah satu dekade tidak memproduksi ponsel sendiri. Posisi ini menempatkan Nokia sebagai pemain pasif yang tetap menuai cuan dari setiap perangkat 2G hingga 5G yang terjual di dunia.

Nokia menyerahkan seluruh risiko manufaktur ponsel kepada pihak lain sejak 2014, ketika Microsoft mengakuisisi unit bisnis tersebut senilai USD 4,4 miliar. Kesepakatan itu juga mencakup lisensi paten sekitar USD 1,9 miliar dan transfer sekitar 32.000 karyawan Nokia ke Microsoft.

Yang tersisa di tangan Nokia adalah nama, portofolio paten, dan bisnis infrastruktur jaringan. Microsoft sendiri mencatat penghapusan buku USD 7,6 miliar pada 2015 terkait akuisisi tersebut, lalu melepaskan bisnis ponsel itu setahun kemudian.

Bagaimana Nokia Tetap Cuan Tanpa Pabrik

Pada 2016, Nokia menandatangani kesepakatan 10 tahun dengan HMD Global, perusahaan yang didirikan mantan eksekutif Nokia. HMD mendapat hak memproduksi ponsel dan tablet bermerek Nokia di seluruh dunia.

Setiap perangkat bermerek Nokia yang terjual sejak Desember 2016 menghasilkan pembayaran royalti bagi Nokia. Perusahaan asal Finlandia itu menyediakan nama dan kekayaan intelektual, sementara HMD menyediakan pabrik, pemasaran, dan menanggung risiko penyimpanan.

Skema ini membuat Nokia tidak perlu menyentuh lini produksi sama sekali, namun tetap menerima aliran pendapatan dari setiap unit yang laku di pasar.

Paten Jadi Mesin Uang Sesungguhnya

Sumber pemasukan terbesar Nokia dari industri ponsel justru berasal dari lisensi paten, bukan royalti merek. Nokia Technologies membukukan penjualan bersih USD 2,2 miliar (Rp 39 triliun) pada 2024, melonjak 78% dari USD 1,3 miliar di 2023.

Kenaikan itu ditopang kesepakatan lisensi baru dengan Oppo dan Vivo, ditambah pembayaran susulan dari perselisihan sebelumnya. Nokia juga menandatangani perjanjian lisensi paten jangka panjang baru dengan Apple yang berlaku mulai Januari 2024.

Sebelumnya, Nokia telah memperbarui perjanjian serupa dengan Samsung pada 2023 dan Huawei pada Desember 2022, serta Honor, Oppo, dan Vivo. Praktis, hampir semua pemain besar industri ponsel kini membayar lisensi ke Nokia.

Nokia mengelola sekitar 26.000 rumpun paten yang dibangun dari riset dan pengembangan senilai lebih dari USD 162 miliar sejak tahun 2000. Inilah dasar mengapa Nokia mendapat bayaran untuk perangkat yang beroperasi di jaringan 2G hingga 5G.

Ekspansi ke Otomotif dan Mobil Terkoneksi

Nokia mulai melisensikan patennya ke bidang baru seperti otomotif. Perusahaan menandatangani kesepakatan dengan sejumlah produsen mobil China dan Mercedes, seiring kebutuhan konektivitas yang semakin melekat pada kendaraan modern.

Langkah ini memperluas basis royalti Nokia di luar ponsel, tepat ketika industri otomotif global beralih ke mobil terhubung dan sistem 5G.

Nasib Merek Nokia Setelah HMD

Lisensi HMD untuk memproduksi smartphone bermerek Nokia dijadwalkan berakhir Maret 2026. HMD mulai beralih ke strategi multimerek yang lebih berpusat pada nama mereka sendiri.

Sejak 2024, HMD mulai menjual ponsel dan aksesori di bawah merek HMD. Perusahaan juga menarik seluruh smartphone bermerek Nokia dari toko di Eropa pada September tahun yang sama.

Pada Juli 2025, seorang manajer komunitas Nokia memublikasikan tulisan di forum Nokia bahwa perusahaan terbuka untuk bermitra dengan produsen seluler besar. Tujuannya menjaga relevansi HP merek Nokia setelah masa eksklusivitas HMD berakhir.

Nokia tidak perlu membuat atau menjual satu ponsel pun untuk menghasilkan uang dari ponsel. Selama jaringan 5G masih beroperasi, perusahaan akan terus menerima pembayaran dari lisensi patennya.

Yang belum jelas, apakah Nokia akan mendapatkan mitra manufaktur baru sebelum tenggat HMD pada 2026. Keputusan itu akan menentukan nasib masa depan merek ponsel bersejarah ini di pasar konsumen.

Reporter: Ronal Siregar
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top