KEPULAUAN RIAU — Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan siap menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengolah batu bara kalori rendah menjadi bensin dan gas. Rencana ini dinilai sebagai langkah memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Menurut Bahlil, gagasan tersebut berangkat dari kondisi geopolitik dunia yang tidak menentu. Pemerintah ingin mengoptimalkan seluruh potensi energi dalam negeri, termasuk batu bara kalori rendah, sebagai sumber energi alternatif.
Teknologi Sudah Tersedia, China Jadi Contoh
Bahlil menjelaskan, teknologi mengubah batu bara menjadi minyak maupun gas sudah dikuasai banyak negara. China disebutnya telah berhasil memproduksi gas dari batu bara kalori rendah untuk memasok kebutuhan warganya.
"Di beberapa negara seperti China, itu gasnya sudah diambil dari batu bara low calorie, dan beberapa perusahaan sudah melakukan penawaran kepada kami untuk melakukan kerja sama," ujar Bahlil.
Indonesia, kata dia, memiliki cadangan batu bara kalori rendah dalam jumlah besar. Potensi itu dinilai membuka peluang kerja sama dengan perusahaan asing yang telah lebih dulu menguasai teknologinya.
"Sekarang teknologi sudah canggih, di mana batu bara yang low calorie itu bisa menghasilkan gas maupun minyak," katanya.
Berawal dari Sukses B50 dan E5
Rencana ini muncul setelah pemerintah menuntaskan program bahan bakar nabati berbasis sawit. Prabowo sebelumnya menyebut Indonesia berhasil mengolah 50 persen minyak sawit menjadi fatty acid methyl ether (FAME) yang dicampur solar hingga menjadi produk B50.
Pemerintah juga mendorong pencampuran 5 persen bioetanol ke dalam bensin atau E5. Keberhasilan itu membuat Prabowo ingin melangkah lebih jauh dengan mengembangkan bensin berbasis batu bara.
"Kita sudah berhasil bikin solar dari kelapa sawit, dan sudah bisa membuat bensin dari kelapa sawit, dan kita juga nanti akan bikin juga bensin dari batu bara," kata Prabowo dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).
Ketahanan Energi Jadi Prioritas
Bahlil menegaskan, setiap perintah Presiden yang berkaitan dengan penguatan ketahanan energi akan menjadi prioritas Kementerian ESDM. Pemerintah ingin mengurangi ketergantungan pada energi impor dengan memaksimalkan sumber daya dalam negeri.
"Kami semua di Kementerian ESDM akan menindaklanjuti setiap perintah Bapak Presiden yang terkait dengan optimalisasi dalam rangka meningkatkan ketahanan energi dengan memakai sumber-sumber energi dalam negeri," bebernya.
Meski begitu, belum ada keterangan resmi soal target waktu, nilai investasi, maupun skema kerja sama yang akan dipakai. Pemerintah juga belum merinci berapa kapasitas produksi yang dibidik dari pengolahan batu bara menjadi bensin dan gas.
Langkah ini menempatkan batu bara tidak lagi sekadar komoditas ekspor, melainkan sumber bahan bakar alternatif di tengah tekanan harga minyak dunia. Bagi Indonesia yang selama ini bergantung pada impor BBM, diversifikasi energi dari batu bara bisa menjadi jalan mengurangi defisit neraca perdagangan migas jika teknologi dan pembiayaannya benar-benar siap.