BATAM — Industri perbankan di Provinsi Kepulauan Riau mencatatkan pertumbuhan yang solid pada semester pertama 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kepri menyebut kinerja ini tidak hanya sehat, tetapi juga melampaui rata-rata nasional, baik dari sisi aset, penghimpunan dana, maupun penyaluran kredit.
Kepala OJK Provinsi Kepulauan Riau Sinar Danandjaya mengapresiasi kontribusi perbankan dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi daerah. "Kinerja industri perbankan di Provinsi Kepulauan Riau hingga Juni 2026 tetap tumbuh positif dan melampaui rata-rata nasional. Kami apresiasi kinerja yang membuat perbankan tetap sehat, tumbuh positif, dan memiliki tingkat risiko yang terjaga," katanya dalam keterangan resmi di Batam, Kamis.
Data OJK per Juni 2026 mencatat total aset Bank Umum di Kepri mencapai Rp114,1 triliun, tumbuh 12,0 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini sejalan dengan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang naik 11,78 persen menjadi Rp110,1 triliun, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK nasional sebesar 10,21 persen.
Pertumbuhan itu tetap diimbangi kualitas kredit yang terjaga. Rasio Non-Performing Loan (NPL) perbankan Kepri tercatat 1,03 persen, jauh lebih rendah dari rasio NPL nasional yang berada di level 2,09 persen.
Penyaluran kredit ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 6,94 persen secara tahunan. Rasio NPL kredit UMKM tetap terkendali di angka 2,59 persen.
Meski tumbuh, porsi kredit UMKM baru mencapai 14,5 persen dari total penyaluran kredit di Kepri. OJK mendorong perbankan untuk tidak sekadar memperluas akses pembiayaan, tetapi juga memberikan pendampingan usaha.
"Kami mendorong perbankan untuk memperkuat likuiditas, meningkatkan penyaluran kredit kepada sektor produktif, khususnya UMKM, serta memperluas literasi dan inklusi keuangan," ujar Sinar.
Distribusi kredit di Kepri dinilai masih timpang. Sekitar 76,9 persen atau setara Rp90,98 triliun dari total kredit masih terpusat di Kota Batam. OJK Kepri meminta perbankan agresif menjangkau daerah lain yang memiliki potensi ekonomi unggulan.
"Penyaluran kredit jangan hanya terpusat di Batam, tetapi juga perlu diperluas ke kabupaten dan kota lain agar manfaat pembiayaan dirasakan lebih merata," kata Sinar.
Perbankan diharapkan mengoptimalkan potensi sektor riil di kabupaten dan kota lainnya. Selain melalui pelatihan dan peningkatan kapasitas usaha, perbankan juga diminta memfasilitasi kemitraan bisnis pelaku UMKM dengan calon pembeli maupun pemasok guna mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi daerah.