KEPULAUAN RIAU — Dua warga negara Jerman ditangkap setelah menempelkan dua lukisan berukuran sekitar 30 x 40 sentimeter di dinding ruang pamer Mona Lisa, Museum Louvre, Paris. Aksi itu menyebabkan kerusakan ringan pada dinding, sementara lukisan Leonardo da Vinci tetap utuh karena terlindung kaca tebal. Keduanya mengaku berbuat iseng dan akan dipanggil ke persidangan setelah pihak museum melapor ke polisi.
Petugas keamanan Museum Louvre bergerak cepat menahan kedua pria tersebut begitu aksi penempelan terjadi di area yang jadi lokasi favorit pengunjung untuk melihat langsung Mona Lisa. Polisi Paris kemudian menangkap mereka atas dugaan merusak dinding ruang pamer.
Kedua pelaku menggunakan selotip untuk memasang karya mereka. Satu lukisan menampilkan salah satu pelaku mengenakan baju zirah, sementara karya lainnya memperlihatkan kedua pria berpose bersama seorang perempuan. Saat diperiksa, keduanya menyatakan aksi itu dilakukan demi kesenangan, menurut sumber kepolisian yang dikutip AFP, Senin, 21 September 2026.
Mahakarya Leonardo da Vinci itu berada di balik lapisan kaca pelindung tebal, sehingga tidak mengalami kerusakan sama sekali. Kerusakan ringan hanya terjadi pada bagian dinding ruang pamer. Pihak Louvre telah mengajukan laporan resmi, dan kedua pelaku dijadwalkan menghadiri persidangan setelah pemanggilan.
Insiden ini terjadi saat Louvre menaikkan tingkat kewaspadaan menyusul serangkaian pencurian yang menyasar museum dan galeri seni di Prancis. Publik pun kembali mempertanyakan seberapa kuat sistem keamanan institusi budaya di negara tersebut.
Museum yang paling banyak dikunjungi di dunia ini pernah jadi korban pencurian pada Oktober 2025. Delapan perhiasan bernilai jutaan dolar raib dalam aksi siang hari. Polisi sudah menangkap empat tersangka, tetapi barang-barang curian belum ditemukan meski penyelidikan terus berjalan.
Peristiwa tersebut membuka sejumlah celah keamanan Louvre, termasuk sistem kamera pengawas yang dinilai sudah ketinggalan zaman. Audit yang diminta museum pada 2019 sebenarnya sudah mencatat persoalan serupa, namun temuan laporan itu tidak ditindaklanjuti.
Louvre menerima sekitar sembilan juta pengunjung sepanjang tahun lalu, jauh di atas kapasitas yang dirancang. Kepadatan itu memicu persoalan arus pengunjung, terutama di ruang Mona Lisa yang selalu menjadi magnet utama wisatawan mancanegara.
Pada Mei 2026, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan rencana pembaruan besar untuk Louvre. Proyek itu mencakup pembangunan ruang khusus baru bagi Mona Lisa serta pintu masuk museum yang baru.
Tekanan lain datang dari cuaca. Manajemen Louvre menutup museum dua jam lebih awal pada 24?27 Juni 2026 karena gelombang panas yang melanda Paris. "Kondisi kunjungan dan kerja menjadi sulit selama jam-jam terpanas dalam sehari," kata manajemen, seraya mencatat bahwa "di penghujung hari panas paling terasa, diperparah oleh jumlah pengunjung yang tinggi."
Manajemen menyebut bangunan bersejarah itu "rentan dan tidak cukup beradaptasi dengan perubahan iklim." Direktur museum Christophe Leribault memperingatkan bahwa Louvre "kehabisan tenaga" karena kesulitan mencari dana untuk meningkatkan fasilitasnya yang sudah tua.
Prancis sendiri merupakan negara paling terdampak gelombang panas ekstrem di Eropa. Météo-France menempatkan 54 departemen dalam peringatan merah pada 23 Juni 2026. Lebih dari 450 rekor suhu panas dipecahkan atau disamai di seluruh negeri, dengan suhu rata-rata nasional 29,2 derajat Celcius dan puncak 43,3 derajat Celcius di Departemen Cher.
Bagi wisatawan yang berencana ke Louvre, kunjungan ke ruang Mona Lisa tetap jadi agenda utama. Namun dengan kepadatan yang tinggi dan riwayat insiden keamanan, wisatawan disarankan memantau pengumuman resmi museum soal jadwal, antrean, dan aturan barang bawaan sebelum berangkat.