BMKG Ungkap Pemicu Banjir Bandang Solok: Curah Hujan 94 mm per Hari

Penulis: Topan Lubis  •  Selasa, 22 September 2026 | 14:07:31 WIB
Curah hujan 94 milimeter per hari memicu banjir bandang di Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

KEPULAUAN RIAU — Curah hujan mencapai 94 milimeter per hari memicu banjir bandang yang menerjang Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada Senin (21/9) malam. BMKG menyatakan peringatan dini bertahap sudah disebarkan sebelum bencana, mulai dari skala tujuh hari hingga jangka pendek. Sebanyak 32 jiwa mengungsi dan 11 kantor pemerintah terdampak akibat kejadian tersebut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat hujan lebat yang mengguyur sekitar Solok memicu luapan air hingga banjir bandang terjadi sekitar pukul 23.00 WIB. Intensitas 94 milimeter per hari itu tergolong lebat berdasarkan pengukuran stasiun BMKG di wilayah tersebut.

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramadhani mengatakan peringatan dini telah disebarkan secara bertahap sebelum bencana terjadi. Peringatan itu mencakup skala tujuh hari, tiga hari, hingga peringatan cuaca ekstrem jangka pendek.

Wilayah yang Masih Berpotensi Hujan Lebat Sepekan ke Depan

Meski sebagian besar wilayah Indonesia tengah memasuki musim kemarau, dinamika cuaca harian di area non-ZOM atau wilayah dengan pola iklim lokal seperti Sumatera Barat tetap menyimpan potensi cuaca ekstrem. BMKG meminta masyarakat di sebagian Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat selama sepekan ke depan.

Kewaspadaan ekstra diserukan bagi wilayah Sumatera bagian utara dan barat, terutama Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang berada dalam fase transisi cuaca. Masyarakat diminta memantau pembaruan informasi peringatan dini secara real-time melalui kanal resmi BMKG.

"Pantauan kami, tentunya dalam pekan ke depan ada beberapa wilayah yang perlu diwaspadai, terutama di sebagian Sumatera, kali ini di wilayah Sumatera Barat, tentunya juga di wilayah sebagian Kalimantan, dan juga tentu di wilayah Sulawesi dan Papua," kata Andri, melansir Antara, Selasa (22/9).

Andri menambahkan kondisi saat ini berada pada fase transisi dari kemarau ke penghujan karena kemarau masih terjadi di beberapa wilayah, khususnya di bagian utara khatulistiwa.

Dampak Banjir Bandang di Arosuka dan Gunung Talang

BPBD Kabupaten Solok melaporkan empat warga mengalami luka-luka akibat banjir bandang yang menerjang sejumlah kawasan di Arosuka, Kecamatan Gunung Talang. Tiga korban luka menjalani perawatan di RSUD Arosuka, sedangkan satu korban lainnya dirujuk ke rumah sakit di Padang.

Sebanyak sembilan kepala keluarga atau 32 jiwa terpaksa mengungsi. BPBD juga mencatat 11 kantor pemerintah terdampak, sementara 21 mobil dan tujuh sepeda motor mengalami kerusakan.

Banjir bandang turut menerjang kawasan Kompleks Kantor Bupati Solok di Bandar Baliang, Jorong Kayu Aro, Nagari Batang Barus, serta Nagari Koto Gaek Guguk, Kecamatan Gunung Talang.

Mengapa Cuaca Ekstrem Tetap Muncul di Musim Kemarau

BMKG menjelaskan wilayah non-ZOM memiliki karakter cuaca yang berbeda dari daerah lain. Pola iklim lokal di Sumatera Barat membuat pembentukan awan hujan tetap mungkin terjadi meski secara umum Indonesia berada di musim kemarau.

Karena itu, pemantauan harian dan peringatan dini jangka pendek menjadi kunci mitigasi. Warga di wilayah rawan diminta tidak hanya mengandalkan informasi musim secara umum, tetapi juga memperhatikan pembaruan cuaca harian dari kanal resmi BMKG.

Bagi pelaku usaha dan aktivitas di kawasan rawan banjir, informasi peringatan dini ini dapat menjadi acuan untuk menyesuaikan jadwal operasional dan logistik selama periode transisi cuaca.

Reporter: Topan Lubis
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top