LINGGA — Kabut asap pekat menyelimuti udara Kabupaten Lingga. Sejumlah sekolah memilih meliburkan siswanya. Kebakaran hutan muncul di beberapa titik, dan warga mulai kesulitan bernapas. Di tengah kondisi itu, sejumlah lahan di Lingga justru mendapat lampu hijau untuk perkebunan kelapa sawit.
Kabupaten Lingga secara geografis 98 persen wilayahnya adalah lautan. Daratan yang tersisa hanya 4–5 persen. Tekanan ekspansi sawit pun membuka hutan-hutan yang masih tersisa, melepas lahan, dan mengubah kawasan hutan menjadi kebun kelapa sawit.
Studi Universitas Göttingen menemukan fakta yang mengkhawatirkan soal dampak sawit. Penelitian yang dilakukan ilmuwan antara tahun 2000 hingga 2015 di Jambi menunjukkan alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit membuat suhu rata-rata meningkat 1,05 derajat Celsius. Sementara suhu di kawasan hutan yang masih utuh hanya naik 0,45 derajat Celsius.
Lahan gundul tercatat 10 derajat Celsius lebih hangat ketimbang hutan. Adapun perkebunan sawit memicu kenaikan suhu antara 0,8 hingga 6 derajat Celsius.
"Permukaan tanah juga menerima lebih banyak radiasi matahari dan meranggas lebih cepat," tulis Clifton Sabajo, ketua tim ilmuwan dalam studi tersebut.
Jambi, tetangga Kabupaten Lingga, sudah merasakan dampaknya. Menurut Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, luas area hutan yang diubah menjadi perkebunan sawit mencapai 689.966 hektare dengan kapasitas produksi sebesar 1,6 juta ton per tahun.
"Efek pemanasan yang kami temukan di Jambi bisa menjadi indikasi perubahan di masa depan terhadap suhu permukaan tanah di kawasan lain di Indonesia yang mengalami alih fungsi hutan untuk perkebunan kelapa sawit," kata Sabajo.
Alexander Knohl, peneliti lain yang terlibat, menambahkan bahwa suhu permukaan tanah adalah bagian penting dari iklim mikro yang mempengaruhi kondisi habitasi untuk tanaman dan hewan. Kenaikan suhu permukaan tanah, lanjutnya, turut menciptakan kelangkaan air di musim kemarau sehingga berdampak pada keragaman hayati.
"Perkembangan alih fungsi lahan di Indonesia harus pula mengevaluasi semua aspek lingkungan dan konsekuensi sosio-ekonomi. Suhu permukaan tanah dan iklim mikro harus pula dipertimbangkan," ujarnya.
Alias Wello, tokoh masyarakat Lingga, bersama sejumlah tokoh pemuda dan warga menyuarakan keprihatinan mendalam. Ia menyoroti konflik agraria yang terjadi antara masyarakat dan perusahaan.
"Saat ini saja sudah banyak konflik agraria yang terjadi antara masyarakat dan perusahaan, belum lagi masalah hukum lainnya, mal administrasi, dan adanya dugaan korupsi dan praktik-praktik haram lainnya yang diduga sengaja dilakukan oleh oknum pejabat Kabupaten Lingga sendiri," ujar Alias Wello.
Ia menambahkan, "Sangat minim sekali perhatian pemerintah dan DPRD akan hal ini."
Kabut asap yang menyesakkan, kebakaran hutan yang melanda, dan suhu yang terus naik menjadi peringatan keras bagi warga Lingga, pemerintah, dan DPRD Kabupaten Lingga. Sawit boleh menjadi komoditas, tetapi daratan yang hanya 4–5 persen itu tidak bisa terus dikorbankan.
Ketika hutan terakhir di Lingga ditebang, tidak ada lagi yang bisa menahan panas, menyerap asap, dan menjaga kehidupan. Peringatan ini bukan sekadar wacana — sudah terjadi di depan mata.