KEPULAUAN RIAU — Inflasi tahunan Kepulauan Riau turun ke 3,49 persen (yoy) pada September 2026 dari 3,87 persen (yoy) sebulan sebelumnya, masih di atas inflasi nasional 3,28 persen. Emas perhiasan menyumbang andil terbesar 0,44 persen, disusul angkutan udara 0,30 persen dan bensin 0,27 persen. Seluruh wilayah IHK di Kepri mengalami inflasi tahunan, dengan Tanjungpinang tertinggi 3,76 persen.
Kepala Kantor Bank Indonesia Kepri Roni Widijarto menyampaikan bahwa secara tahunan sejumlah komoditas masih menjadi penyumbang utama inflasi di provinsi kepulauan tersebut. Selain emas perhiasan, angkutan udara, dan bensin, tekanan juga datang dari nasi dengan lauk sebesar 0,26 persen serta beras 0,18 persen.
Meski masih di atas angka nasional, inflasi Kepri tetap berada dalam rentang sasaran 2,5±1 persen. Level harga sejumlah barang dan jasa tercatat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Harga emas perhiasan masih relatif tinggi seiring perkembangan harga emas global. Tarif angkutan udara dan harga bensin juga berada di atas level tahun sebelumnya, dipengaruhi penyesuaian biaya transportasi dan harga BBM nonsubsidi.
Komoditas nasi dengan lauk masih memberikan tekanan akibat akumulasi kenaikan harga periode sebelumnya serta tingginya biaya bahan baku dan faktor produksi.
Secara nasional, tekanan inflasi terutama berasal dari emas perhiasan, bensin, ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, dan beras. Di Kepri, angkutan udara dan nasi dengan lauk memberikan kontribusi lebih besar terhadap inflasi tahunan dibandingkan pola nasional.
Seluruh wilayah cakupan penghitungan IHK di Kepri mengalami inflasi tahunan. Kota Batam mencatat 3,65 persen (yoy), sedangkan Tanjungpinang mencapai 3,76 persen (yoy). Kabupaten Karimun mencatat inflasi paling rendah, yakni 1,63 persen (yoy).
Dibandingkan provinsi lain di Sumatera, inflasi Kepri berada di posisi kelima. Aceh mencatat inflasi tertinggi 5,03 persen, disusul Kepulauan Bangka Belitung 4,30 persen, Lampung 3,51 persen, dan Sumatera Barat 3,50 persen.
Secara bulanan, Kepri mengalami inflasi 0,27 persen (mtm) pada September 2026, berbalik dari deflasi 0,17 persen (mtm) pada Agustus. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama dengan inflasi 0,88 persen (mtm) dan andil 0,26 persen.
Kenaikan harga cabai merah, kangkung, dan cabai rawit berkaitan dengan keterbatasan panen di sejumlah daerah sentra produksi di Sumatera bagian utara dan Jawa. Harga daging ayam ras turut naik seiring kenaikan permintaan di tengah pasokan terbatas.
Kelompok pendidikan mencatat inflasi 0,41 persen (mtm) dengan andil 0,03 persen, salah satunya akibat kenaikan biaya perguruan tinggi pada periode pendaftaran ulang mahasiswa.
Kenaikan inflasi September tertahan oleh kelompok transportasi yang mengalami deflasi 0,25 persen (mtm) dengan andil -0,03 persen. Tarif angkutan udara turun seiring masuknya periode low season setelah musim liburan berakhir.
Memasuki Oktober 2026, sejumlah risiko inflasi masih perlu diantisipasi. Volatilitas harga emas dunia masih tinggi di tengah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed dan perkembangan geopolitik. Tekanan imported inflation serta potensi kenaikan harga cabai merah dan cabai rawit juga perlu diwaspadai.
Untuk menjaga stabilitas harga, sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat provinsi dan kabupaten/kota terus diperkuat bersama Bank Indonesia. Salah satunya melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) yang diarahkan untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
Sepanjang September 2026, sejumlah langkah stabilisasi telah dilakukan, antara lain High Level Meeting TPID se-Provinsi Kepri, Rapat Koordinasi TPID Kota Batam, penyaluran SPHP secara rutin di berbagai kabupaten/kota, serta penyaluran sarana dan prasarana ketahanan pangan.