Belanja Infrastruktur AI Capai USD31,6 Triliun, Lampaui Era Rel dan Dotcom

Penulis: Topan Lubis  •  Selasa, 06 Oktober 2026 | 09:06:31 WIB
Belanja modal pusat data global untuk AI diproyeksikan mencapai USD31,6 triliun hingga 2050.

KEPULAUAN RIAU — Proyeksi belanja modal pusat data global untuk kecerdasan buatan (AI) mencapai USD31,6 triliun hingga 2050, jauh melampaui belanja pada era kejayaan perkeretaapian dan internet setelah memperhitungkan inflasi. Analisis Reuters menilai besarnya investasi itu memunculkan pertanyaan soal kemampuan industri AI menghasilkan pendapatan yang sepadan. Imbal hasilnya masih bergantung pada peningkatan produktivitas dan penciptaan keuntungan yang belum terbukti secara historis.

Proyeksi tersebut disusun PwC dan dimodelkan oleh Oxford Economics. Angka USD31,6 triliun berada dalam kisaran sekitar USD22 triliun hingga hampir USD50 triliun, bergantung pada kecepatan adopsi AI di masing-masing negara dan sektor.

Sebagai perbandingan, belanja pada periode ledakan pembangunan rel kereta dan dotcom disebut jauh lebih kecil setelah disesuaikan dengan inflasi. Artinya, skala investasi infrastruktur AI saat ini belum pernah terjadi dalam sejarah ekonomi modern.

Bain: Butuh Tambahan 1% PDB Global per Tahun

Ketua Praktik Teknologi Global Bain & Company, David Crawford, menyoroti ketimpangan antara kecepatan pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan permintaan yang sesungguhnya.

"Infrastruktur AI sedang dibangun jauh lebih cepat daripada pertumbuhan permintaan, dan pendanaannya secara berkelanjutan akan membutuhkan tambahan sekitar satu persen terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global setiap tahun," kata Crawford, dalam laporan perusahaan tersebut dikutip dari Yahoo Finance, Selasa (6/10/2026).

Pernyataan itu menyiratkan bahwa tanpa lonjakan permintaan yang sepadan, beban pembiayaan pusat data berpotensi menekan anggaran negara maupun neraca perusahaan teknologi dalam jangka panjang.

Mengapa Imbal Hasil Sulit Diprediksi

Analisis Reuters menunjukkan belum ada bukti historis kuat bahwa investasi AI akan menghasilkan keuntungan sebesar belanja modalnya. Produktivitas yang dijanjikan teknologi ini masih dalam tahap pengujian di banyak industri.

Dua syarat utama agar imbal hasil terwujud adalah peningkatan produktivitas tenaga kerja dan penciptaan keuntungan korporasi. Keduanya belum terlihat konsisten di lapangan.

  • Belanja modal pusat data global diproyeksi USD31,6 triliun hingga 2050.
  • Kisaran proyeksi: USD22 triliun hingga hampir USD50 triliun, bergantung kecepatan adopsi AI.
  • Kebutuhan pendanaan tambahan: sekitar 1% PDB global per tahun.
  • Pemodel: Oxford Economics untuk proyeksi PwC.

Tekanan bagi Pelaku Pasar dan Negara

Bagi investor global, narasi AI yang selama ini menggerakkan harga saham teknologi menghadapi ujian baru: seberapa cepat pendapatan benar-benar mengalir. Ketika belanja infrastruktur melampaui kurva permintaan, risiko koreksi terhadap ekspektasi laba menjadi lebih besar.

Negara-negara yang mengejar pembangunan pusat data juga berhadapan dengan kebutuhan fiskal tambahan. Jika sekitar 1% PDB global per tahun harus dialokasikan untuk pendanaan berkelanjutan, ruang anggaran untuk sektor lain bisa tergerus.

Pertanyaan yang tersisa bukan lagi soal besarnya investasi, melainkan apakah produktivitas yang dihasilkan AI mampu menutup biaya pembangunannya sebelum siklus belanja berikutnya dimulai.

Reporter: Topan Lubis
Sumber: ekbis.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top