BATAM — Kepala BP Batam Amsakar Achmad mengungkapkan kajian sumber air dari Lingga sudah melalui tiga kali pertemuan dengan deputi BP Batam, pihak Air Batam Hilir (ABH), dan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Pertemuan itu membahas skema pemanfaatan air baku dari luar Batam sebagai solusi jangka panjang.
"Kami sudah tiga kali pertemuan dengan deputi BP Batam, pihak ABH (Air Batam Hilir) dan SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum). Saya minta dibuat secepat mungkin roadmap tentang tata kelola air di Batam," kata Amsakar di Batam, Rabu.
Peningkatan kebutuhan air baku di Batam berjalan seiring pertumbuhan penduduk, pembangunan permukiman, aktivitas ekonomi, dan investasi. Saat ini Batam mengandalkan delapan waduk sebagai sumber air baku, namun satu di antaranya sudah tidak beroperasi.
"Ketersediaan air baku di Batam menjadi perhatian karena pertumbuhan Batam, baik pertumbuhan penduduk, pembangunan dan rumah, maupun ekonomi dan investasi, semuanya mengindikasikan kebutuhan air bersih yang meningkat dari waktu ke waktu," ujar Amsakar.
BP Batam menyiapkan tiga langkah untuk menjaga pasokan air bersih. Pertama, mencari sumber air baku dari luar Batam. Kedua, membangun waduk baru di dalam Batam. Ketiga, merevitalisasi jaringan perpipaan yang telah digunakan puluhan tahun.
Untuk opsi sumber air dari luar Batam, studi sebelumnya menempatkan Lingga dan Bintan sebagai dua kandidat. Lingga dinilai memiliki debit air lebih besar sehingga lebih menjamin ketersediaan jangka panjang, meski biaya pembangunannya tinggi. Bintan memiliki sumber air lebih terbatas, tetapi biaya pengembangannya relatif lebih rendah.
"Lingga memiliki sumber air dengan debit lebih besar sehingga dinilai lebih menjamin ketersediaan jangka panjang, tetapi membutuhkan biaya pembangunan yang tinggi," kata Amsakar.
"Kalau kita pilih opsi mengalirkan air dari luar Batam, jika anggaran cukup atau investor sanggup, kita harus memilih Lingga. Karena ketersediaan jangka panjang lebih terjamin," ujarnya.
BP Batam telah bertemu dengan Bupati dan Wakil Bupati Lingga untuk membahas kemungkinan skema pembiayaan serta keterlibatan mitra dalam pengembangan sumber air baku tersebut. Air dari Lingga rencananya dialirkan ke Batam melalui jaringan pipa.
Rencana mengalirkan air dari Lingga bukan hal baru. Kajian mengenai opsi serupa telah dilakukan sejak 1991 dan kini perlu disesuaikan dengan kondisi serta harga terkini.
"Angkanya cukup besar. Kalau menggandeng investor mereka juga pasti akan cermat tentang break-even point, atau pengembalian modalnya," kata Amsakar.
Besarnya biaya menjadi salah satu hal yang harus dihitung matang apabila proyek tersebut melibatkan investor. Ketiga opsi yang dipertimbangkan tetap berjalan paralel sebelum roadmap tata kelola air Batam ditetapkan.