KEPULAUAN RIAU — Nvidia resmi membuka data benchmark RTX Spark, chip laptop berbasis Arm yang menggabungkan CPU Grace dengan GPU Blackwell dan memori terpadu hingga 128GB. Hasil Geekbench 7 menunjukkan skor single-core RTX Spark tertinggal jauh dari Apple M5 Pro, meski berhasil menyalip AMD dan Intel di kelas yang sama. Pengujian ini dilakukan langsung selama sepekan di laboratorium sebelum angka-angka resminya boleh dipublikasikan.
Pengujian berlangsung penuh selama tujuh hari menggunakan Surface Laptop Ultra sebagai perangkat uji. Nvidia sendiri membingkai RTX Spark bukan sekadar chip laptop biasa, melainkan kombinasi CPU berbasis Arm dan GPU Blackwell dalam satu paket memori terpadu. Angka yang dirilis baru mencakup hasil CPU; pengujian GPU, gaming, dan kemampuan AI lokal masih berjalan secara langsung.
Dari data Geekbench 7 yang sudah keluar, RTX Spark dengan konfigurasi 20-core CPU mencatat skor 2604 single-core dan 23610 multi-core. Angka ini menempatkannya di bawah Apple M5 Pro yang mencetak 3690 single-core dan 29659 multi-core.
Selisihnya cukup lebar di jalur single-core. Artinya, untuk tugas-tugas yang bergantung pada satu inti cepat, RTX Spark belum bisa menandingi chip Arm milik Apple.
Di jalur multi-core, perlombaan jadi lebih rapat. Skor 23610 milik RTX Spark hanya terpaut tipis dari Snapdragon X2 Elite Extreme yang mencatat 23645. Keduanya berada di level yang nyaris setara.
Namun untuk single-core, Snapdragon X2 Elite Extreme masih unggul dengan 3214, sekitar 600 poin di atas RTX Spark. Ini menunjukkan bahwa keunggulan Nvidia di CPU Arm belum merata di semua metrik.
Di sisi lain, RTX Spark berhasil mengalahkan dua pesaing x86. AMD Ryzen AI Max 395+ hanya mencetak 2407 single-core dan 20856 multi-core, sementara Intel Core Ultra x9 388H berada di posisi paling bawah dengan 2574 single-core dan 17223 multi-core.
Untuk pengguna yang selama ini memakai laptop berbasis AMD atau Intel di kelas yang sama, lompatan ke RTX Spark tetap terasa signifikan di beban kerja multi-core. Tapi bukan berarti RTX Spark otomatis jadi rajanya.
Nvidia mengklaim RTX Spark bisa menjalankan game, mengakselerasi AI lokal, dan memberi daya tahan baterai sepanjang hari. Semua klaim itu belum divalidasi angka dalam pengujian kali ini. Benchmark GPU, emulasi Arm untuk aplikasi x86, dan uji baterai masih berlangsung.
Justru di tiga area itulah taruhan terbesarnya. Kalau CPU saja belum bisa mengalahkan Apple, RTX Spark perlu menang besar di GPU atau efisiensi daya untuk membuat paket ini masuk akal secara harga.
Beberapa vendor sudah membuka pemesanan atau penjualan laptop berbasis RTX Spark. Harganya bervariasi cukup jauh, dari kelas mainstream sampai workstation.
Belum ada konfirmasi ketersediaan resmi RTX Spark di pasar Indonesia. Semua harga di atas masih dalam dolar AS dan belum termasuk pajak impor. Kalau mengikuti pola peluncuran chip Arm sebelumnya, versi Indonesia biasanya menyusul beberapa bulan setelah peluncuran global.
Untuk sekarang, angka Geekbench 7 ini perlu dibaca sebagai satu potongan saja dari gambaran besar. Klaim gaming, AI, dan baterai masih menunggu hasil uji yang belum keluar.