Pencarian

Harga BBM Naik dan Godaan Turun RON: Efek Jangka Panjang ke Mesin Mobil Bisa Lebih Mahal daripada Hematnya

Jumat, 07 Agustus 2026 • 06:36:01 WIB
Harga BBM Naik dan Godaan Turun RON: Efek Jangka Panjang ke Mesin Mobil Bisa Lebih Mahal daripada Hematnya
Harga BBM naik membuat sejumlah pengendara mempertimbangkan penggunaan BBM dengan RON lebih rendah demi menghemat pengeluaran.

KEPULAUAN RIAU — Pertanyaan soal boleh tidaknya menurunkan Research Octane Number (RON) selalu muncul setiap kali pemerintah atau badan usaha mengumumkan penyesuaian harga BBM. Selisih harga per liter antara RON 92 dan RON 90 memang terlihat menggiurkan, apalagi untuk kendaraan yang dipakai harian dengan jarak tempuh jauh.

Di DKI Jakarta, selisih harga antara Pertamax (RON 92) yang dibanderol Rp15.950 per liter dengan BBM RON 90 yang lebih murah bisa mencapai ribuan rupiah. Untuk tangki 40 liter, hitungan kasarnya memang menghemat ratusan ribu rupiah dalam sekali isi penuh. Namun, penghematan di pompa bensin itu belum tentu sebanding dengan biaya perawatan mesin di kemudian hari.

Fungsi RON dan Hubungannya dengan Rasio Kompresi Mesin

RON adalah ukuran kemampuan bensin menahan pembakaran dini akibat tekanan tinggi di ruang bakar. Semakin tinggi rasio kompresi mesin, semakin tinggi pula RON yang dibutuhkan agar pembakaran terjadi tepat waktu sesuai setelan ECU dan timing busi.

Jika RON terlalu rendah, campuran udara dan bensin terbakar lebih cepat sebelum piston mencapai posisi ideal. Kondisi inilah yang disebut knocking atau ngelitik, dan menjadi gejala paling umum saat mesin dipaksa memakai bensin di bawah spek.

Dampak Berantai saat Mesin Terpaksa Minum RON Rendah

Mesin modern dilengkapi knock sensor yang mendeteksi pembakaran abnormal. Begitu sensor aktif, ECU memundurkan waktu pengapian demi melindungi komponen, tapi konsekuensinya tenaga mesin ikut dipangkas dan akselerasi terasa loyo.

Pengemudi yang merasakan tarikan berkurang biasanya merespons dengan injakan pedal gas lebih dalam. Alhasil, jumlah bensin yang terpakai justru meningkat dan konsumsi BBM menjadi lebih boros. Pembakaran yang tidak sempurna juga mempercepat penumpukan kerak karbon di busi, piston, dan ruang bakar.

Risiko terbesar ada pada mesin turbo atau kompresi tinggi yang sensitif terhadap kualitas bahan bakar. Kerusakan piston, ring piston, katup, hingga turbo bisa terjadi jika pemakaian RON rendah dibiarkan berlarut-larut. Biaya perbaikannya jelas jauh lebih mahal daripada selisih harga BBM yang dihemat.

Kalau Sekali Terpaksa Isi RON Lebih Rendah, Langsung Rusak?

Mesin modern masih punya toleransi jika sekali waktu diisi BBM di bawah rekomendasi, misalnya karena kondisi darurat atau SPBU terdekat tidak menyediakan oktan yang sesuai. Knock sensor akan beradaptasi agar mesin tetap aman.

Namun, hal ini tidak boleh dijadikan kebiasaan. Begitu menemukan SPBU dengan RON yang sesuai spesifikasi, segera isi kembali agar mesin bekerja optimal. Sebaliknya, memakai RON di atas anjuran tidak akan merusak mesin, meski peningkatan performa pada mobil standar biasanya tidak terasa signifikan karena ECU sudah disetel sesuai kebutuhan pabrik.

Setiap model dan tahun produksi mobil memiliki kebutuhan RON yang berbeda. Selalu utamakan rekomendasi dari buku manual atau stiker di balik tutup tangki BBM, bukan sekadar melihat harga di SPBU.

Follow batamdaily.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: blackxperience.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks