Irjen Pol Andry Wibowo, Analis Kebijakan Lemdiklat Polri, menerima undangan Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) untuk menjadi narasumber Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Tanjungpinang. Perwira tinggi bintang dua yang dikenal dekat dengan rakyat kecil ini langsung menyetujui permintaan tersebut tanpa melalui prosedur birokrasi yang berbelit. Kedekatannya dengan insan pers disebut telah lama terjalin layaknya persahabatan, bukan sekadar hubungan formal.
TANJUNGPINANG — Di tengah hiruk pikuk tugas sebagai perwira tinggi Polri, Irjen Pol Andry Wibowo tetap meluangkan waktu untuk berbagi ilmu dengan insan pers di Tanjungpinang. Analis Kebijakan Lemdiklat Polri itu menjadi narasumber dalam kegiatan Uji Kompetensi Wartawan yang digagas oleh Komunitas Jurnalis Kepri (KJK). Ia mengaku langsung mengiyakan undangan tersebut begitu menerima surat permohonan yang diajukan.
"Begitu terima surat permohonannya dan ternyata jadwalnya tidak benturan, saya langsung iyakan," ujarnya saat ditemui di sela-sela kegiatan.
Jenderal yang Jauh dari Gemerlap
Meski berpangkat jenderal bintang dua, Andry justru dikenal sebagai sosok yang sederhana. Pria kelahiran Yogyakarta, 12 Juni 1971 ini mengaku tidak pernah berubah meski telah melanglang buana memimpin di berbagai wilayah strategis. Kesederhanaan itu tercermin dari selera kulinernya yang tetap setia pada masakan rumahan.
Semangkuk Bakmi Godog Geno, sayur asem yang hangat, dan Gudeg Yogyakarta adalah hidangan yang selalu merawat sisi humanisnya. Menurutnya, kuliner autentik tersebut menjadi pengingat bahwa dirinya adalah bagian dari rakyat yang ia layani.
Prinsip Hidup yang Dipegang Teguh
Perjalanan karier Andry di Korps Bhayangkara tidak lepas dari kepasrahan spiritual yang mendalam. Ia mengaku tidak pernah ambisius mengejar jabatan, melainkan memilih berserah pada ketetapan Sang Pencipta.
"Saya selalu mengimani bahwa setiap ketetapan dan kejadian yang terjadi dalam kehidupan ini adalah bagian dari takdir Allah yang terbaik," ungkapnya dengan tulus.
Filosofi hidup yang ia pegang pun cukup puitis. Menurutnya, masalah yang diulang-ulang akan menjadi kebun masalah, begitu pula sebaliknya dengan kebaikan. "Kalau masalah dibuat berulang-ulang, ia akan jadi kebun dan buah masalah pada waktunya. Sebaliknya, kalau kebaikan dilakukan berulang-ulang, maka ia akan jadi kebun dan buah kebaikan pada masanya," tuturnya.
Pengabdian Tanpa Panggung Pencitraan
Sepanjang kariernya, Andry telah bertugas di berbagai penjuru Nusantara, mulai dari Nusa Tenggara Timur, Aceh, Riau, hingga Sulawesi. Pengalaman panjang tersebut membentuk karakternya yang adaptif dan mampu menyatu dengan masyarakat setempat.
Baginya, ikut gotong-royong mencangkul tanah atau duduk bersila bersama warga di tengah kebun adalah panggilan jiwa. Di sanalah ia mendengarkan langsung keluhan dan harapan warga, bukan sekadar melihat dari balik kaca mobil dinas.
"Mereka adalah masyarakat yang pandai berterima kasih, apalagi saat mereka merasa ditolong oleh polisi yang baik. Kesederhanaan warga inilah yang terus menginspirasi saya untuk mengabdi dengan jujur," katanya.
Hubungan Hangat dengan Media
Kedekatan Andry dengan dunia jurnalistik mengalir secara alami. Ia menyebut hubungannya dengan para wartawan telah bertransformasi menjadi persahabatan sejati yang lahir dari rasa saling menghargai. Hal ini yang kemudian mendorongnya untuk hadir langsung sebagai narasumber UKW di Tanjungpinang tanpa sekat birokrasi.
Di lingkungan kepolisian, Andry dikenal gemar bergaul namun tetap tegak lurus pada profesionalisme. Ia memilih menjauhkan diri dari intrik politik dan berpegang pada nilai-nilai kepamongan yang mengedepankan pelayanan tulus tanpa pamrih.
Menurutnya, masyarakat kecil tidak membutuhkan janji muluk. Mereka hanya mendambakan perhatian tulus dan penyelesaian masalah yang cepat. Penegakan hukum yang benar, kata dia, adalah fondasi utama bagi kemajuan bangsa. Namun di atas segalanya, ia percaya semangat gotong-royong adalah kekuatan paling dahsyat untuk menjaga keutuhan Indonesia.