TANJUNGPINANG — Ketua Umum Lembaga Adat Melayu Kepulauan Riau, Dato' Seri Setia Utama H. Raja Al Hafiz Raja Ismail, membeberkan filosofi di balik tradisi makan berhidang yang masih dijalankan masyarakat Melayu Kepri. Tradisi ini bukan cuma soal cara menyantap makanan, tetapi mengandung nilai kesetaraan yang sengaja dijaga dari generasi ke generasi.
Rombongan peserta festival AJI yang sebelumnya menggelar acara di Batam sempat merasakan langsung pengalaman makan berhidang di gedung LAM Kepri, Tanjungpinang, pada Senin 21 September 2026. Mereka duduk bersila melingkar berempat dengan posisi lutut nyaris bersentuhan, menyantap lauk dari satu talam yang sama.
Duduk Sama Rendah, Berdiri Sama Tinggi
Bagi Raja Alhafiz, posisi duduk yang rapat dan berdekatan itu punya makna khusus. Tidak ada jarak yang menandakan siapa lebih terhormat dari yang lain.
"Nilai-nilainya ada kebersamaan. Istilahnya duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, jadi kebersamaan. Artinya tidak ada memandang siapa yang tinggi derajatnya," katanya.
Jumlah orang dalam satu hidangan ternyata tidak baku empat orang. Di Lingga, satu hidangan biasa disantap lima orang. Sementara di Tanjungpinang, empat orang jadi formasi yang lazim.
"Sebenarnya bisa saja, bisa lima. Kalau di Lingga itu lima. Tapi kalau disini (Tanjungpinang) Kita biasa duduk sama empat orang," ujarnya.
Fungsi Seprah dan Tudung Saji dari Pandan
Detail kecil seperti alas kain putih atau seprah yang digelar di atas talam ternyata punya fungsi praktis. Kain itu mencegah lauk tumpah ke alas lain sehingga lebih mudah dibersihkan.
"Seprah itu supaya yang makan, lauk-lauknya tidak tumpah ke alas yang lain. Jadi kalau tumpah, ya tumpahnya di atas seprah itu, mudah dibersihkan," kata Raja Alhafiz.
Hidangan ditutup tudung saji berbahan pandan dengan warna-warni hijau dan merah. Menurut Raja Alhafiz, model tudung saji seperti itu memang ciri khas orang Melayu zaman dulu.
"Tudung saji itu dibuat dari pandan. Warnanya hijau, merah, macam-macam, supaya lebih menarik. Itu memang tudung saji orang Melayu dulu seperti itu," ujarnya.
Korma, Pacri, Acar, hingga Darca
Isi talam bukan sembarang lauk. Ada korma, gulai ayam berkuah santan dan susu. Ada pacri dari kelapa parut yang digoreng hingga kemerahan lalu ditumbuk halus, biasa dipadukan dengan nanas atau terong. Ada pula acar dari timun, cabai, dan bawang yang diperas hingga kering agar tidak cepat basi.
"Ada korma, itu masakan pakai santan dan susu. Ada pacri, dibuat dari kelapa parut yang digoreng sampai warnanya agak merah, baru ditumbuk halus. Ada pacri nenas, ada pacri terong. Kemudian ada acar, dari timun, cabai, bawang, dipres dibuang airnya supaya tidak cepat basi," jelas Raja Alhafiz.
Lauk lain yang biasa menyertai adalah gulai dari ikan, daging, atau ayam. Ada juga darca, gulai campuran sayur dan buah yang jadi pelengkap khas.
"Terong itu, itu namanya darca. Darca itu campuran dari sayur buah-buahan, ada terong, ada kentang, ada wortel, ada kacang panjang, macam-macam lagi," jelasnya.
Nasi Minyak, Menu yang Hanya Muncul di Kenduri Besar
Menu paling dinanti dalam tradisi ini adalah nasi minyak khas Melayu. Beras yang dipakai berbeda dari nasi biasa karena tidak mengembang saat dimasak dan tetap panjang.
"Nasi minyak itu masakan nasi pakai beras mati. Beras itu saat dimasak tidak kembang, tetap panjang. Dia pakai minyak stapi, pakai minyak samin, kemudian pakai santan, ada kismis, ada hati ayam atau hati daging serta kacang. Itu campuran supaya menambah rasa," kata Raja Alhafiz.
Karena proses masaknya lebih rumit dan bahannya lebih mahal, nasi minyak biasanya hanya muncul pada acara atau kenduri besar.
Dijaga Sejak Zaman Kerajaan di Pulau Penyengat
Tradisi makan berhidang dan nasi minyak bukan hal baru. Sejak zaman kerajaan hingga sekarang, keduanya masih terus dijaga, terutama dalam acara adat di Pulau Penyengat.
"Pada zaman kerajaan sampai saat ini tetap itu, nasi minyak, makan berhidang itu. Kalau ada acara di Penyengat, kita siapkan makan berhidang, nasi minyak. Di Masjid Penyengat itu ada dua balai, tempat kita menghidangkan makanan. Satu balai untuk lima bekas, satu bekas itu satu hidangan lengkap dengan lauk-pauknya, nasinya, semuanya," katanya.
Menghindari Makanan Terbuang Percuma
Ada satu nilai lagi yang jadi filosofi makan berhidang. Porsi lauk sudah dibagi sesuai jumlah orang yang duduk semeja, sehingga tidak ada alasan mengambil lebih dari yang bisa dihabiskan.
"Tapi kalau makan seperti prasmanan, kadang orang ambil sampai dua, tiga, tapi makannya cuma satu, kan mubazir," ujarnya.
Bagi masyarakat Melayu Kepulauan Riau, makan berhidang tetap dijalankan hingga kini sebagai cara menyambut tamu. Duduk setalam dianggap mengingatkan bahwa semua orang seharusnya setara.