Pencarian

Fadil Imran: Enam Medali Asian Games 2026 Jadi Pijakan Menuju LA 2028

Rabu, 07 Oktober 2026 • 19:06:31 WIB
Fadil Imran: Enam Medali Asian Games 2026 Jadi Pijakan Menuju LA 2028
Ketua Umum PP PBSI Fadil Imran memberikan keterangan dalam acara Tasyakuran Pencapaian Tim Bulu Tangkis Indonesia pada Asian Games 2026 di Pelatnas Cipayung, Jakarta.

KEPULAUAN RIAU — Ketua Umum PP PBSI Fadil Imran menegaskan enam medali bulu tangkis Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 bukan sekadar koleksi prestasi. Seluruh hasil pertandingan, baik kemenangan maupun kekalahan, harus diolah menjadi data evaluasi untuk memperkuat persiapan menuju Olimpiade Los Angeles 2028.

Fadil menyampaikan hal itu dalam acara Tasyakuran Pencapaian Tim Bulu Tangkis Indonesia pada Asian Games 2026 di Pelatnas PP PBSI Cipayung, Jakarta. Menurutnya, setiap pertandingan yang dijalani atlet di Aichi-Nagoya menyimpan informasi berharga yang belum sepenuhnya tergali.

Federasi diminta tidak berhenti pada hasil akhir. Detail permainan setiap atlet perlu dibedah untuk memetakan aspek yang sudah berjalan baik dan bagian yang masih butuh perbaikan.

Medali Harus Jadi Data, Bukan Pajangan Lemari

Fadil memakai perumpamaan tegas soal cara memandang capaian di Asian Games. Medali, katanya, tidak boleh berhenti sebagai benda yang disimpan rapi.

"Medali Asian Games ini jangan hanya kita simpan di lemari. Kita harus mengubah setiap medali menjadi data, setiap pertandingan menjadi evaluasi, setiap kekalahan menjadi pelajaran, dan setiap kemenangan menjadi standar baru," ujar Fadil.

Pendekatan itu menempatkan Asian Games 2026 sebagai bagian dari proses panjang, bukan garis akhir. Setelah persaingan di Aichi-Nagoya rampung, PBSI diminta segera mengevaluasi seluruh penampilan atlet untuk menghadapi agenda yang lebih besar.

Kekalahan Alwi Farhan dan Pelajaran dari Sektor Putri

Salah satu hasil yang disorot Fadil adalah kekalahan Alwi Farhan dari tunggal putra Thailand, Kunlavut Vitidsarn. Menurutnya, laga itu perlu dianalisis mendalam untuk mengetahui faktor yang membuat Alwi belum mampu mengatasi lawannya.

Evaluasi serupa berlaku untuk sektor putri pada nomor perseorangan. Hasil yang belum sesuai harapan dinilai harus menjadi bahan pembelajaran, bukan sekadar catatan kekalahan.

Dengan cara pandang itu, kekalahan tidak diposisikan sebagai akhir dari sebuah proses. Hasil negatif harus menghasilkan informasi yang bisa dipakai atlet dan pelatih untuk mempersiapkan pertandingan berikutnya.

Kemenangan Ubed atas Weng Hongyang Jadi Standar Baru

Dari sisi lain, kemenangan juga tidak boleh membuat atlet berhenti berkembang. Fadil mencontohkan performa Mohammad Zaki Ubaidillah atau Ubed yang berhasil mengalahkan tunggal putra China, Weng Hongyang.

Hasil itu dinilainya menjadi tolok ukur baru bagi pemain muda tersebut saat menghadapi lawan dari kelompok elite dunia.

"Ketika Ubed bisa menang melawan tunggal China, itu menjadi standar baru buat Ubed," kata Fadil.

Pekerjaan Rumah: Konsistensi hingga Kedalaman Skuad

Bagi PBSI, ukuran keberhasilan pembinaan tidak semata ditentukan kemampuan melahirkan juara dalam satu turnamen. Yang lebih penting adalah membangun sistem yang mampu menciptakan prestasi berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Fadil menyebut sejumlah pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan:

  • Menjaga konsistensi performa atlet di setiap turnamen
  • Memperkuat kedalaman pemain di setiap sektor
  • Memperkecil kesenjangan kualitas antara kelompok pratama dan utama
  • Meningkatkan kemampuan atlet saat menghadapi tekanan pertandingan

PBSI juga akan memperkuat program latihan individual dan pemantauan berbasis data. Pendekatan itu diharapkan membuat program pembinaan lebih sesuai dengan karakteristik serta kebutuhan setiap atlet.

Terbuka pada Kelemahan Sendiri

Fadil menekankan pentingnya sikap terbuka dalam evaluasi organisasi. Federasi, menurutnya, harus mampu melihat kelemahan secara objektif agar perbaikan bisa dilakukan.

"Organisasi yang sehat bukan organisasi yang merasa selalu benar. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang berani melihat kekurangannya dan memperbaikinya," ujarnya.

Target jangka panjang PBSI menuju Olimpiade Los Angeles 2028 telah ditetapkan sejak Musyawarah Nasional PBSI 2024. Federasi membidik kelolosan wakil Indonesia secara maksimal di seluruh sektor sekaligus mempertahankan peluang meraih medali emas.

Karena itu, capaian di Aichi-Nagoya ditempatkan sebagai salah satu pijakan menuju target tersebut. Evaluasi hasil pertandingan menjadi kunci agar PBSI punya gambaran lebih jelas soal kekuatan dan kelemahan para atlet.

"Perjalanan menuju Los Angeles 2028 terus berjalan. Prestasi adalah milik bersama, evaluasi adalah tanggung jawab bersama, dan masa depan bulu tangkis Indonesia adalah perjuangan kita bersama," kata Fadil.

Follow batamdaily.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: sudutpandang.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks