Badan Pusat Statistik Kepulauan Riau mengingatkan tren inflasi menjelang akhir tahun berpotensi naik seiring momentum Natal dan Tahun Baru 2027. Hingga September 2026, inflasi tahunan Kepri tercatat 1,73 persen, masih dalam rentang sasaran nasional maksimal 3,5 persen. BPS mendorong Tim Pengendalian Inflasi Daerah memperkuat stabilisasi harga pangan di kabupaten/kota.
TANJUNGPINANG — Humas BPS Kepri Resa Surya Utama menyebut kenaikan harga tiket pesawat dan gangguan musim angin utara terhadap komoditas pangan menjadi pemicu utama inflasi akhir tahun. Pihaknya meminta TPID tingkat provinsi dan kabupaten/kota mengantisipasi gejolak harga sejak dini.
Kelompok bahan makanan yang harganya mudah berfluktuasi, terutama sayur-mayur dan cabai, menjadi perhatian utama. BPS menilai penekanan harga komoditas tersebut penting untuk menjaga inflasi Kepri tidak melampaui target tahunan.
Inflasi Kepri per September 2026 Capai 1,73 Persen
Resa merinci inflasi nasional sampai Desember 2026 ditargetkan maksimal 3,5 persen. Sementara inflasi Kepri hingga September 2026 sudah mencapai 1,73 persen secara tahunan.
Pada September dibanding Agustus 2026, inflasi bulanan Kepri sebesar 0,27 persen. Komoditas penyumbang andil terbesar meliputi cabai merah, cabai rawit, kangkung, daging ayam ras, biaya perguruan tinggi, dan sayur bayam.
"Secara tahunan, inflasi Kepri hingga September 2026 masih terkendali, yaitu 1,73 persen," ujar Resa.
Tanjungpinang Catat Inflasi Tertinggi 3,76 Persen
Dari tiga kabupaten/kota acuan penghitungan inflasi di Kepri, Kota Tanjungpinang mencatat angka tertinggi pada periode September 2026 sebesar 3,76 persen. Posisi berikutnya Kota Batam 3,65 persen dan Kabupaten Karimun 1,63 persen.
Selisih angka antarwilayah ini menunjukkan tekanan harga tidak merata. Tanjungpinang dan Batam sebagai pusat aktivitas ekonomi menghadapi gejolak lebih besar dibanding Karimun.
Langkah BI dan TPID Sepanjang September
Kepala Bank Indonesia Kepri Rony Widjiarto menyatakan BI bersama TPID telah menjalankan sejumlah langkah stabilisasi harga pangan menjelang akhir tahun. Pada September, upaya tersebut mencakup High Level Meeting TPID se-Provinsi Kepri dan Rapat Koordinasi TPID Kota Batam.
Penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dilakukan rutin di berbagai kabupaten/kota. Sarana dan prasarana ketahanan pangan juga disalurkan kepada kelompok tani unggulan di Kepri.
Risiko Oktober: Harga Emas hingga Cabai Merah
Memasuki Oktober, Rony menyebut sejumlah risiko yang tetap perlu diwaspadai. Volatilitas harga emas dunia, tekanan inflasi dari komoditas impor, serta potensi kenaikan harga cabai merah dan cabai rawit masuk dalam radar pemantauan.
BI bersama TPID Kepri akan memperkuat sinergi untuk stabilitas inflasi. Upaya lanjutan mencakup peningkatan produksi pangan, pelaksanaan pasar murah, penguatan kerja sama antardaerah (KAD), serta koordinasi pengendalian inflasi di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
"Penguatan produksi pangan, pelaksanaan pasar murah, penguatan KAD serta penguatan koordinasi pengendalian inflasi diharapkan dapat menjaga inflasi Kepri pada akhir tahun 2026 tetap terkendali dalam rentang sasaran 2,5±1 (3,5 persen)," kata Rony.