BATAM — Geliat ekonomi Batam memasuki babak pertumbuhan yang lebih konkret. Di bawah komando Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, kota industri ini tidak hanya mengejar angka investasi, tetapi juga memastikan dampaknya terasa langsung oleh masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja baru.
Data terbaru menunjukkan realisasi investasi hingga Semester I 2026 mencapai Rp 38,97 triliun berdasarkan metode bottom-up, atau setara 55,67 persen dari target tahunan Rp 70 triliun. Angka ini menjadi modal kuat untuk menjaga momentum pertumbuhan hingga akhir tahun.
Kepercayaan investor terhadap Batam tidak bisa dilepaskan dari kinerja gemilang pada Triwulan I 2026. Saat itu, realisasi investasi menembus Rp 17,48 triliun dengan pertumbuhan year-on-year mencapai 102,85 persen.
Angka tersebut hampir 14 kali lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan investasi nasional yang hanya 7,2 persen. Bahkan, kontribusi Batam terhadap tambahan investasi nasional pada periode itu mencapai 26,5 persen, menegaskan posisinya sebagai salah satu kawasan strategis utama di Indonesia.
Dampak investasi terhadap ekonomi riil mulai terlihat jelas. Jumlah tenaga kerja yang terserap melonjak dari 30.979 orang pada Semester I 2025 menjadi 40.943 orang pada Semester I 2026.
Artinya, terjadi penambahan sekitar 9.964 tenaga kerja baru dalam kurun waktu satu tahun. Ketika proyek industri mulai beroperasi dan aktivitas usaha meningkat, kebutuhan akan sumber daya manusia ikut bertumbuh secara alami.
Amsakar Achmad menegaskan bahwa capaian ini bukan sekadar angka di atas kertas. Menurutnya, tugas utama BP Batam adalah menjawab kepercayaan dunia usaha dengan pelayanan yang semakin baik dan kepastian berusaha.
"Kepercayaan dunia usaha terhadap Batam terus menguat. Tugas kita adalah memastikan kepercayaan tersebut dijawab dengan pelayanan yang semakin baik, kepastian berusaha dan pembangunan infrastruktur yang mendukung kebutuhan investor," ujar Amsakar dalam keterangan resminya, baru-baru ini.
Ia menambahkan, yang terpenting adalah bagaimana investasi ini terus bergerak, proyeknya terealisasi, dan memberikan multiplier effect bagi ekonomi Batam.
Sementara itu, Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra menilai tingginya realisasi investasi harus diimbangi dengan kualitas pelayanan yang prima kepada dunia usaha. Investor membutuhkan ekosistem yang memberikan kepastian sejak tahap awal hingga proyek beroperasi.
"Pelayanan publik harus cepat, kolaborasi lintas instansi juga semakin kuat, serta berbagai hambatan investasi diselesaikan secara cepat dan terukur. Ini menjadi faktor penting untuk memberikan kepastian dan kenyamanan bagi investor," kata Li Claudia.
Ia menegaskan, target jangka panjangnya adalah menjadikan Batam bukan hanya tempat investor datang, tetapi juga tempat yang nyaman untuk berkembang dan melakukan ekspansi bisnis.
Dengan realisasi LKPM Semester I yang mencapai 42,70 persen dari target, BP Batam optimistis target akhir tahun dapat tercapai. Berbagai langkah percepatan kemudahan berusaha, penguatan infrastruktur logistik, dan konektivitas terus diarahkan untuk menjaga daya saing Batam di kancah investasi nasional maupun global.