KEPULAUAN RIAU — Kisah cinta dengan keyboard fisik QWERTY biasanya dimulai dari era BlackBerry atau Palm Pre. Saya memulai pengujian Clicks Power Keyboard dengan harapan yang sama: menempelkannya ke iPhone 15 Pro selama seminggu penuh dan menyaksikan kecepatan mengetik melesat. Kenyataannya, perangkat ini justru membuktikan bahwa otot jempol saya—dan mungkin Anda—sudah terprogram ulang oleh belasan tahun penggunaan layar sentuh.
Data dari pengujian langsung menunjukkan perbandingan yang tidak bisa dibantah. Di layar sentuh iPhone 15 Pro, saya mencetak 53 kata per menit dengan akurasi 81 persen. Begitu berpindah ke Clicks Power Keyboard, angka itu anjlok ke 30 WPM dengan akurasi hanya 62 persen.
Masalah utamanya bukan pada kualitas tombol—justru di sinilah kekuatan produk ini. Setiap tuts punya bentuk ergonomis, travel distance yang pas, dan suara klik yang memuaskan. Namun otak dan jempol kita sudah dilatih untuk mengandalkan autocorrect dan prediksi teks agresif. Kembali ke tombol fisik berarti setiap huruf harus ditekan dengan sengaja dan penuh tenaga, plus berburu tanda baca di panel backlit yang sempit.
Di sinilah kelemahan paling serius muncul. Clicks menambah ketebalan 15,2 mm di bagian belakang ponsel, membuat perangkat yang tadinya ramping menjadi bongkahan plastik yang tidak nyaman digenggam. Karena keyboard meluncur keluar dari bawah, distribusi berat menjadi sangat timpang—bagian atas ponsel terasa berat dan setiap saat terasa akan jatuh ke belakang.
Build quality juga tidak sebanding dengan banderolnya. Back cover terbuat dari plastik yang terasa murah, dan engsel slider-nya longgar dengan tingkat kekokohan yang mengkhawatirkan. Untuk aksesori di atas USD 100, ekspektasi material premium jelas tidak terpenuhi.
Jangan berharap banyak dari baterai 2.300 mAh yang tertanam di dalamnya. Dengan output pengisian nirkabel Qi 5W, produk ini hanya mampu memperpanjang napas ponsel yang sekarat, bukan mengisi daya secara bermakna. Untuk pengguna yang mobile, ini lebih seperti aksesori darurat daripada solusi daya andalan.
Namun ada satu keajaiban yang menyelamatkan produk ini dari jurang kekecewaan. Berkat Bluetooth 5.4 dan dukungan multi-point hingga sembilan perangkat, Clicks Power Keyboard berubah menjadi hub taktil serbaguna. Saya menggunakannya untuk mengetik di smart TV yang keyboard on-screen-nya menyiksa, lalu berpindah ke PS5 untuk membalas pesan di chat tim—semuanya mulus tanpa perlu pairing ulang.
Kombinasi paling menarik justru muncul saat dipasangkan dengan Samsung DeX dan kacamata Viture Pro 2. Layar Galaxy Z Fold 8 berubah menjadi touchpad, sementara keyboard fisik ini menangani input teks. Skenario ini terasa lebih natural daripada memaksa keyboard menjadi case harian.
Clicks Power Keyboard adalah eksperimen nostalgia yang menarik tapi cacat. Ia membuktikan bahwa kerinduan pada tombol fisik tidak sebanding dengan pengorbanan kecepatan, kenyamanan, dan estetika ponsel modern. Sebagai daily driver, produk ini hanya cocok untuk mereka yang benar-benar berkomitmen pada gaya mengetik era 2010-an.
Namun sebagai perangkat sekunder—remote Bluetooth untuk TV, konsol, atau setup DeX—produk ini punya nilai yang sah. Jika kebutuhan Anda adalah mengetik cepat di ponsel, lewati produk ini dan tetap gunakan layar sentuh. Jika Anda ingin hub taktil untuk ekosistem perangkat rumah, Clicks Power Keyboard layak dipertimbangkan dengan catatan: Anda harus siap menerima kompromi besar pada pengalaman memakai ponsel sehari-hari.