BATAM — Rangkaian lomba memperingati Hari Kemerdekaan RI di MIS Raudhatul Ilmi, Sagulung, Batam, bukan sekadar euforia. Sekolah yang berdiri sejak 2012 ini menjadikan momen tersebut sebagai ladang mencari siswa berbakat untuk diikutsertakan ke kompetisi tingkat kota hingga provinsi.
Kepala MIS Raudhatul Ilmi, Karnelis, S.Pd., Gr., mengatakan tradisi ini berjalan setiap tahun sejak madrasah mulai beroperasi pada 2013 lalu. Lomba yang digelar beragam, mulai dari langgam Melayu, fashion show, gerak jalan, tarik tambang, balap karung, hingga joget balon.
“Setiap tahun kita adakan kegiatan seperti ini untuk merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia. Sekaligus kami mencari bibit-bibit untuk maju ke Porseni dan Paskibra,” ujar Karnelis, Sabtu (22/8/2026) pagi.
Upaya tersebut membuahkan hasil nyata. Siswa madrasah ini pernah meraih juara I matematika tingkat Kota Batam dan juara V tingkat Provinsi Kepulauan Riau. Prestasi lain juga diraih di bidang IPA, Cerdas Cermat Al-Qur’an (CCQ), hingga cerdas cermat keagamaan.
“Alhamdulillah, setiap tahun ada siswa kita yang mewakili dan berprestasi. Untuk voli, setiap tahun kita pasti mendapatkan juara, paling kecil juara harapan I,” katanya.
Di luar urusan akademik, madrasah ini memberikan perhatian khusus pada siswa yatim dan keluarga kurang mampu. Setiap tahun, pihak sekolah membebaskan biaya SPP bagi anak yatim sebagai bentuk dukungan keberlangsungan pendidikan mereka.
Kepedulian sosial juga diwujudkan lewat kegiatan kurban rutin. “Setiap tahun juga ada kurban untuk siswa dan guru mengatasnamakan madrasah. Sekitar lima ekor, prioritasnya anak-anak dan tetangga sekolah,” jelas Karnelis.
Pihaknya berharap lebih banyak donatur tergerak membantu siswa yang membutuhkan. “Kami berharap badan atau para donatur mau membantu anak yatim ataupun anak-anak yang tidak mampu,” ujarnya.
Minat masyarakat terhadap MIS Raudhatul Ilmi terbilang tinggi. Namun, kapasitas lahan dan ruang kelas yang terbatas membuat madrasah ini tidak bisa menampung semua calon siswa baru.
“Kita sebenarnya setiap tahun banyak yang kita tolak untuk murid ajaran baru karena sudah full kapasitas. Kondisi tempat dan lokasi juga belum memadai,” kata Karnelis.
Pihak sekolah berharap lahan kosong di sekitar madrasah dapat dihibahkan atau dijual untuk pengembangan fasilitas. Rencana jangka panjangnya, lahan tersebut akan digunakan untuk membangun jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs). “Harapan ke depannya, insyaallah kalau ada lahan, kami akan bangun MTs,” ujarnya.
Perjalanan lebih dari satu dekade madrasah ini mulai menunjukkan regenerasi. Sejumlah alumni angkatan pertama kini telah berkiprah sebagai guru, baik di MIS Raudhatul Ilmi maupun sekolah lainnya.
Karnelis menyebut hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri. Pendidikan yang diberikan tidak hanya melahirkan lulusan, tetapi juga mendorong sebagian alumni untuk kembali berkontribusi di dunia pendidikan. Saat ini madrasah tengah bersiap mengikuti Porseni tingkat Kota Batam yang dijadwalkan berlangsung pada September mendatang.