KEPULAUAN RIAU — Pekan lalu, harga Pertamax (RON 92) resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Kenaikan itu juga diikuti Pertamax Green 95 (RON 95) yang melesat dari Rp 12.900 ke Rp 17.000 per liter. Kini, publik bertanya apakah angka itu bisa kembali ke level sebelumnya.
Dwi Anggia, Juru Bicara Kementerian ESDM, menyatakan harga BBM nonsubsidi bisa turun. Syaratnya, harga minyak mentah dunia harus kembali ke level normal.
“Nah apakah bisa turun? Pasti. Ketika harga minyak dunia turun, sudah bisa dipastikan harga BBM nonsubsidi juga akan turun,” kata Anggia dalam konferensi pers di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Kamis (18/6).
Pernyataan itu sekaligus menjawab spekulasi yang beredar di kalangan pengguna kendaraan bermotor. Namun, Anggia mengingatkan bahwa fluktuasi harga minyak dunia masih sangat dinamis.
Anggia menegaskan bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi bukan fenomena lokal. Negara-negara lain juga mengalami tekanan serupa akibat ketidakpastian geopolitik global.
“Seiring berjalannya waktu, fluktuasi harga yang semakin dinamis, para pelaku usaha mau tidak mau harus menyesuaikan dengan harga keekonomian,” ujarnya.
Jika harga minyak dunia naik lagi, penyesuaian ke atas juga tak terhindarkan. Artinya, konsumen harus siap dengan dua kemungkinan: harga bisa turun jika kondisi membaik, atau justru naik jika tekanan berlanjut.
Di tengah ketidakpastian harga nonsubsidi, pemerintah memastikan BBM subsidi tidak ikut naik. Anggia menyebut langkah itu sebagai kebijakan Presiden untuk melindungi kelompok ekonomi rentan.
“Inilah kebijakan Presiden untuk menjaga BBM subsidi tidak naik harganya, sesulit apapun kondisi geopolitik di luar sana, ini yang tetap dijaga,” kata dia.
Kepastian itu memberi sedikit ruang napas bagi pengguna kendaraan roda dua dan angkutan umum yang bergantung pada BBM subsidi. Namun, bagi pemilik mobil pribadi pengguna Pertamax, nasib harga masih tergantung pergerakan minyak mentah dunia.