KEPULAUAN RIAU — Keputusan ini diambil di tengah fluktuasi harga minyak global yang berdampak pada harga jual di tingkat konsumen. BP Indonesia, sebagai salah satu pengelola SPBU swasta, memilih untuk menyesuaikan harga secara selektif, tidak merata untuk seluruh produk.
Harga BP 92 masih bertahan di angka Rp 16.670 per liter, sementara BP Ultimate untuk bensin tetap di posisi Rp 17.240 per liter. Artinya, pemilik kendaraan bermesin bensin belum merasakan dampak dari penyesuaian harga kali ini.
Penurunan harga solar nonsubsidi ini cukup dalam, mencapai hampir 15 persen dari harga sebelumnya. Langkah ini bisa menjadi angin segar bagi pengguna kendaraan diesel komersial maupun pribadi yang selama ini mengeluhkan mahalnya harga bahan bakar.
Dengan harga baru Rp 21.340 per liter, BP Ultimate Diesel kini bersaing lebih ketat dengan produk diesel nonsubsidi lainnya di pasar. Meski masih di atas harga solar bersubsidi yang ditetapkan pemerintah, penurunan ini sedikit meringankan beban operasional bagi pemilik kendaraan niaga.
Belum ada pernyataan resmi dari pengelola SPBU swasta lain mengenai apakah akan mengikuti langkah serupa. Namun, tekanan pasar biasanya mendorong kompetitor untuk melakukan penyesuaian agar tidak kehilangan pelanggan.
Penurunan harga BBM nonsubsidi seperti yang dilakukan BP Indonesia umumnya mengacu pada tren harga minyak mentah dunia. Saat harga minyak mentah turun, margin keuntungan operator swasta memungkinkan mereka untuk menurunkan harga jual.
Keputusan ini juga bisa menjadi strategi untuk meningkatkan volume penjualan di tengah persaingan ketat dengan SPBU milik negara. Konsumen kini punya lebih banyak opsi untuk memilih bahan bakar dengan harga lebih kompetitif, khususnya untuk jenis diesel.