TANJUNGPINANG — Surat Keputusan pensiun diterima, ruang kerja mulai dikosongkan. Bagi seorang pegawai negeri, ini awal pergolakan batin. Melepaskan atribut jabatan bukan perkara mudah; ia ujian ketulusan yang kerap berujung pada nostalgia berlebihan akan kejayaan masa lalu.
Fenomena ini, dalam ilmu psikologi disebut post-power syndrome, kerap terlihat di tengah masyarakat Kepri. Sebagian mantan pejabat masih menyebut-nyebut jabatan dan jasa di depan publik. Mereka lupa kolega tahu persis gaya kepemimpinan dan perlakuan terhadap orang kecil saat masih aktif.
"Ada yang egonya masih aktif, merasa paling berkuasa sehingga saran orang lain dianggap sepele. Pokoknya, saat menjabat tak mau dibantah," demikian potret dalam sebuah refleksi di Kepri.co.id. Akibatnya, saat pensiun tiba, mereka tidak lagi dihormati. Hanya segelintir orang yang itu-itu saja mengelilingi mereka.
Di sisi lain, ada potret purnabakti berbeda. Mereka yang saat menjabat disenangi masyarakat meninggalkan ruang kerja dengan iringan air mata dari staf dan anak buah yang enggan berpisah. Ketulusan saat memimpin menjadi warisan tak ternilai, jauh melebihi piagam penghargaan atau luasnya rumah dinas.
Rasulullah SAW telah memberikan timbangan jernih menilai kemuliaan seseorang. Dalam hadis riwayat ath-Thabrani yang dihasankan oleh al-Albani: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." Pertanyaan mendasar bagi setiap ASN yang akan purna tugas: sudahkah ia menjadi manusia yang bermanfaat, atau baru terlihat berguna saat jabatan masih melekat?
Refleksi objektif memang menyakitkan, tetapi justru di situlah obat berada. Keberanian mengakui bahwa di masa lalu pernah mengabaikan saran tulus, menyakiti hati bawahan, atau merasa rezeki jabatan semata karena kehebatan diri adalah langkah awal berdamai dengan ego. Air mata penyesalan tulus dari seorang pensiunan jauh lebih mulia daripada seribu cerita kehebatan yang dipaksakan untuk dikenang.
Pensiun adalah keniscayaan setelah sekian lama mengabdi. Tidak ada yang bisa menolak sunnatullah ini. Namun, meski peran formal telah berakhir, peran kemanusiaan tidak pernah pensiun. Momentum emas ini adalah kesempatan membayar tuntas ruang kosong pengabdian lewat ketulusan bagi keluarga, lingkungan, dan sahabat tercinta.