BATAM — Angka investasi yang masuk ke Batam pada paruh pertama 2026 mencapai Rp29,89 triliun, naik signifikan dari Rp18,37 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah proyek pun bertambah menjadi 15.826 proyek, atau naik 32,82 persen.
Wali Kota Batam yang juga Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Amsakar Achmad, mengatakan transformasi ini menunjukkan kualitas investasi yang semakin baik. Jika sebelumnya investasi didominasi infrastruktur dan manufaktur perakitan, kini arahnya bergeser ke industri bernilai tambah lebih tinggi.
Amsakar menyebut sektor teknologi informasi menjadi motor pertumbuhan baru, terutama dengan berkembangnya industri pusat data. Ia mencontohkan PT Altiva Identity Data Center yang telah menanamkan investasi pusat data di Batam.
“Dengan ini kami berkomitmen memastikan kesiapan infrastruktur pendukung, terutama ketersediaan listrik dan air bersih yang menjadi kebutuhan utama industri berbasis teknologi,” ujar Amsakar di Batam, Rabu.
Ia juga menyoroti rencana kemitraan Firmus Technologies Australia bersama Nvidia. Keduanya berencana membangun fasilitas produksi Graphics Processing Unit (GPU) di Batam yang ditargetkan mulai beroperasi pada triwulan I 2027.
Berdasarkan data Semester I 2026, sektor jasa lainnya menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp6,09 triliun. Disusul industri mesin, elektronika, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik, dan jam sebesar Rp6,07 triliun.
Industri kimia dan farmasi menyumbang Rp3,97 triliun, perumahan dan kawasan industri Rp3,52 triliun, serta transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi sebesar Rp2,55 triliun.
Menurut Amsakar, peningkatan tidak hanya terjadi pada jumlah proyek, tetapi juga nilai investasi per proyek. Rata-rata investasi per proyek naik 22,53 persen, dari Rp1,54 miliar menjadi Rp1,89 miliar.
“Lonjakan ini mencerminkan iklim usaha yang semakin kondusif sekaligus hasil sinergi antara Pemko Batam, BP Batam, pemerintah pusat, dan seluruh pemangku kepentingan dalam memberikan kepastian berusaha bagi investor,” katanya.
Dari sisi negara asal, Singapura masih mendominasi dengan nilai investasi Rp10,89 triliun. Disusul Hong Kong Rp1,39 triliun, Korea Selatan Rp1,18 triliun, Republik Rakyat Tiongkok Rp1,11 triliun, dan Amerika Serikat Rp1,02 triliun.
“Transformasi struktur investasi ke bidang teknologi ini seiring dengan meningkatnya kepercayaan investor terhadap Batam,” ujar Amsakar.