Manggarai – Sebanyak 14 unit jembatan dan deuker dilaporkan rusak akibat gempa yang mengguncang Pulau Flores per 20 Agustus 2026. Dari angka itu, dua jembatan vital di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi prioritas pemulihan, yakni Jembatan Wae Pesi di Kabupaten Manggarai dan Jembatan Wae Dampek di Kabupaten Manggarai Timur, dengan target rehabilitasi dimulai paling lambat pertengahan September 2026.
Instruksi percepatan itu disampaikan Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo saat meninjau langsung penanganan kedua jembatan pada Jumat (28/8/2026). Percepatan ini bukan hanya untuk mengembalikan fungsi jembatan, tetapi sekaligus memperkuat ketahanannya terhadap gempa.
“Wae Pesi ini secara keseluruhan terdampak paling parah. Kita berusaha merehabilitasi dengan cepat. Saat ini sedang mendatangkan alat dari Jakarta. Mudah-mudahan paling lambat pertengahan September kita sudah mulai melakukan rehabilitasi,” kata Menteri Dody.
Penanganan infrastruktur terdampak gempa harus berjalan cepat. Penekanan itu disampaikan Menteri Dody agar masyarakat bisa kembali beraktivitas, mobilitas orang dan barang berjalan normal, serta akses antarkawasan tetap terjaga.
“Yang menjadi porsi kita harus kita kerjakan secepat-cepatnya. Dengan kualitas harus lebih bagus lagi dan berkarakter lebih tahan terhadap gempa,” ujar Dody Hanggodo.
Jembatan Wae Pesi terletak di ruas Ruteng–Reo–Kedindi dan menjadi perhatian khusus karena jalur itu terhubung langsung dengan Pelabuhan Reo yang memiliki depo Pertamina untuk distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM). Hasil pemeriksaan BPJN NTT menunjukkan sejumlah kerusakan, antara lain retakan pada oprit jembatan, expansion joint, dan bagian daerah aliran sungai (DAS).
Peralatan berat sedang dikirim dari Jakarta dan kini dalam perjalanan. Setelah tiba, rehabilitasi dijadwalkan langsung dieksekusi paling lambat pertengahan September 2026. Diharapkan fungsi jembatan bisa segera normal sehingga gangguan perjalanan masyarakat di jalur tersebut tidak berlarut-larut.
Usai memeriksa Wae Pesi, Menteri Dody melanjutkan peninjauan ke Jembatan Wae Dampek yang membentang di Sungai Wae Laing, Kabupaten Manggarai Timur. Jembatan sepanjang 60 meter dengan tipe rangka baja itu berada di ruas Wae Gongger–Batas Kabupaten Manggarai–Pota. Dalam kesempatan tersebut, ia memeriksa kondisi oprit dan turun langsung ke bawah jembatan untuk mengecek struktur sekaligus memastikan metode penanganannya tepat.
Menteri PU menegaskan bahwa pemulihan kedua jembatan harus mempertimbangkan karakter wilayah Flores yang rawan gempa. Prinsip build back better menjadi acuan agar infrastruktur yang dipugar tidak sekadar berfungsi kembali, tetapi juga lebih kokoh menghadapi risiko bencana.
“Ini adalah daerah gempa. Jadi bangunannya harus bisa menyesuaikan diri dengan kondisi alamnya. Prinsipnya kita harus membangun dengan lebih baik lagi, tetapi dengan lebih cepat,” kata Dody Hanggodo.
Data terbaru per 20 Agustus 2026 menyebutkan gempa Flores berdampak pada 11 ruas jalan nasional, dengan total 64 titik longsoran, 7 titik patahan badan jalan, serta 14 unit jembatan dan deuker yang rusak. Untuk memulihkan akses, BPJN NTT telah mengerahkan 12 unit excavator dan 4 unit loader, plus mobilisasi jembatan Bailey dari NTB, Bali, dan Sulawesi Selatan. Kementerian PU memastikan seluruh ruas jalan nasional di Pulau Flores kini telah bisa dilalui kendaraan secara fungsional.