TANJUNGPINANG — Angka stunting di Kepulauan Riau masih menjadi pekerjaan rumah yang serius. Pemprov Kepri menargetkan prevalensi stunting turun dari 15 persen menjadi 14 persen pada 2029, sebuah target yang disebut tidak bisa ditawar.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, M. Bisri, menyebut stunting sebagai ancaman nyata yang berisiko menurunkan potensi tumbuh kembang fisik dan kecerdasan anak secara permanen. Kondisi ini, menurutnya, bisa memicu hilangnya satu generasi atau lost generation.
"Berapapun angka stunting tidak dapat ditoleransi dan harus diturunkan. Dalam menurunkan stunting tentunya perlu upaya bersama terutama dari keluarga," ujar M. Bisri, Senin (7/9/2026).
Tantangan terbesar penanganan stunting di Kepri bukan sekadar soal gizi, melainkan geografi. Wilayah kepulauan yang tersebar membuat sejumlah daerah tidak tersentuh layanan kesehatan dan infrastruktur dasar.
Menurut Bisri, kantong-kantong stunting banyak berada di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terisolir (3T). Kendala utama yang dihadapi warga di lokasi tersebut adalah akses pelayanan kesehatan dan penyediaan air bersih yang belum memadai.
"Kantong-kantong stunting di Kepri banyak berada di daerah kepulauan yang terisolir atau daerah 3T. Kendalanya akses pelayanan kesehatan, penyediaan air bersih belum sampai di wilayah tersebut," jelasnya.
Menjangkau daerah-daerah terisolir tidak bisa dilakukan dengan pola biasa. Bisri menyebut dibutuhkan alokasi dana yang lebih besar untuk membuka akses kesehatan dan air bersih di wilayah-wilayah tersebut.
Langkah konkret pun disiapkan di tingkat eksekutif. Gubernur Kepri dijadwalkan menggelar rapat kerja bersama bupati dan wali kota se-Provinsi Kepri untuk merumuskan penguatan program penurunan stunting.
"Bapak Gubernur besok akan menggelar rapat kerja bersama bupati dan wali kota untuk merumuskan penguatan penurunan stunting," kata Bisri.
Rapat tersebut menjadi sinyal bahwa penanganan stunting tidak lagi berjalan sendiri-sendiri antardaerah. Kolaborasi antara provinsi dan kabupaten/kota dinilai krusial, terutama untuk menyamakan data, strategi intervensi, dan pembagian anggaran.