Badan Geologi ESDM: Sebaran Gas SO2 Erupsi Anak Krakatau Capai Jabodetabek

Penulis: Topan Lubis  •  Selasa, 08 September 2026 | 14:07:02 WIB
Citra satelit menunjukkan sebaran gas SO2 erupsi Anak Krakatau mencapai wilayah Jabodetabek.

KEPULAUAN RIAU — Namun, Badan Geologi menegaskan bahwa peta satelit SO2 tidak otomatis menandakan udara di permukaan Jakarta berbahaya. Citra tersebut merekam jumlah SO2 di seluruh kolom atmosfer pada ketinggian tertentu, bukan konsentrasi gas yang kita hirup sehari-hari.

"Bahaya SO2 ini bergantung pada tingkat ketinggiannya di troposfer karena apabila berada di ketinggian tertentu, tidak langsung terhirup oleh masyarakat," tulis Badan Geologi melalui akun Instagram resminya.

Apa Itu Gas SO2 dan Mengapa Berbahaya?

Sulfur dioksida adalah salah satu spesies dari gas oksida sulfur (SOx) yang berbau tajam, tidak berwarna, dan mudah larut dalam air. Gas ini terbentuk saat terjadi pembakaran bahan bakar fosil yang mengandung sulfur, seperti minyak mentah, batu bara, dan bijih logam.

Mengutip Global Atmosphere Watch, SO2 telah lama dikenal sebagai gas yang dapat menyebabkan iritasi pada sistem pernafasan, terutama pada selaput lendir hidung, tenggorokan, dan saluran udara di paru-paru. Efek kesehatan ini bisa lebih parah bagi penderita asma.

Selain itu, SO2 yang terkonversi di udara menjadi pencemar sekunder seperti aerosol sulfat memiliki ukuran sangat halus sehingga dapat terhisap ke dalam sistem pernafasan bawah. Aerosol sulfat bersifat korosif dan karsinogenik, sehingga dampaknya bagi kesehatan lebih berat dibandingkan partikel lainnya.

Ambang Batas Aman dan Gejala yang Perlu Diwaspadai

Badan Geologi menyebut konsentrasi SO2 di bawah 5 ppm masih aman bagi kesehatan. Namun, jika melebihi batas normal, gas ini dapat memicu batuk, sesak napas, iritasi mata, serta iritasi saluran napas dan paru-paru.

Masyarakat diimbau untuk tidak perlu cemas selama tidak mencium bau menyengat seperti belerang. Jika bau tersebut mulai terasa, langkah mitigasi sederhana bisa langsung diterapkan.

Langkah Antisipasi Saat Bau Belerang Tercium

Ketika bau SO2 mulai terdeteksi, Badan Geologi merekomendasikan beberapa tindakan perlindungan diri:

  1. Gunakan masker untuk menyaring partikel gas yang terhirup
  2. Tetap berada di dalam ruangan dan kurangi aktivitas di luar rumah
  3. Tidak meminum air hujan karena berisiko mengandung zat asam berbahaya bagi tubuh

Dampak Lingkungan: Hujan Asam dan Kerusakan Tanaman

Kadar SO2 yang tinggi di atmosfer juga menjadi salah satu pemicu terbentuknya hujan asam. Proses ini terjadi ketika sulfur dari bahan bakar fosil dan nitrogen di udara bereaksi dengan oksigen, membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat tersebut kemudian berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air menjadi asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut, lalu jatuh bersama air hujan.

Air hujan yang sudah bersifat asam ini dapat meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan, terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan dan tanaman. Kelebihan zat asam pada danau menyebabkan berkurangnya spesies yang mampu bertahan, dengan plankton dan invertebrata sebagai makhluk pertama yang mati akibat pengasaman.

Bagi tanaman, gas SO2 dengan konsentrasi tinggi mampu membunuh jaringan daun. Kerusakan pada pinggiran daun dan daerah di antara tulang-tulang daun akan semakin parah ketika kelembaban udara meningkat.

Masyarakat di wilayah terdampak diharapkan terus memantau informasi resmi dari Badan Geologi dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk perkembangan terbaru aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Reporter: Topan Lubis
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top