KEPULAUAN RIAU — Tambahan pasokan ini menjadi tameng harga beras di pasar. Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyebut, realisasi penyaluran dari alokasi sebelumnya sudah tembus 92 persen. Artinya, dari 828 ribu ton yang disiapkan, hampir semuanya sudah mengalir ke masyarakat lewat berbagai jalur distribusi.
Sisa stok yang ada sekarang tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga awal tahun depan. Karena itu, pemerintah memutuskan menambah alokasi jauh lebih besar, bukan sekadar menutup defisit empat bulan terakhir 2026.
Penambahan angka 1 juta ton bukan tanpa perhitungan. Rizal menjelaskan, kebutuhan pokok beras melonjak signifikan saat perayaan Natal dan Tahun Baru. Setelah itu, pasar masih menghadapi periode paceklik karena panen raya baru berlangsung sekitar Maret 2027.
"Kebutuhan kami sebenarnya hanya untuk September, Oktober, November, Desember. Tapi arahan dari Pak Menko dan Pak Mentan, di bulan Januari, Februari (2027) itu belum ada panen. Panen nanti di bulan Maret (2027)," katanya di Jakarta, Selasa (8/9).
Arahan itu datang langsung dari Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan bersama Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman. Tambahan alokasi ini telah disepakati dalam Rapat Koordinasi Terbatas Pengelolaan dan Penyaluran Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). Wakil Kepala Badan Pengaturan BUMN Tedi Bharata turut hadir dalam forum tersebut.
Beras SPHP tambahan ini akan disalurkan melalui jaringan yang sudah berjalan. Bulog mengandalkan Rumah Pangan Kita (RPK), SP2KP, dan saluran distribusi lainnya yang menjangkau pasar rakyat hingga pedagang pengecer.
Sebelumnya, Bulog sempat mengajukan tambahan sekitar 400 ribu ton untuk kebutuhan September hingga Desember 2026. Namun pemerintah memutuskan angka yang jauh lebih besar dengan pertimbangan rantai pasok hingga awal musim panen.
Dengan tambahan ini, Bulog diharapkan mampu menjaga harga beras di tingkat konsumen tetap terkendali. Stabilitas ini penting mengingat beras merupakan komoditas penyumbang inflasi terbesar dalam kelompok bahan makanan.
Kesiapan stok juga menjadi sinyal bagi pedagang dan spekulan untuk tidak menahan pasokan. Kehadiran beras SPHP di pasar dengan harga terjangkau menjadi alat intervensi yang efektif saat harga acuan mulai merangkak naik.