Kepala BMKG Tanjungpinang Ahmad Kosasih menyatakan kabut asap dari Kalimantan masih berpotensi masuk ke wilayah Kepulauan Riau dalam beberapa hari ke depan. Potensi itu dipicu cuaca di Kepri yang didominasi cerah berawan dengan peluang hujan rendah, sehingga belum cukup membantu mengurangi kabut asap. Kabut asap pekat sendiri mulai menyelimuti Tanjungpinang dan Bintan sejak Senin (14/9).
TANJUNGPINANG — Kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan yang masih berlangsung menjadi penyebab utama. Angin dari arah tenggara hingga selatan dinilai dapat membawa asap menuju Kepri selama karhutla di sana belum mereda.
"Kalau posisi prediksi kita (BMKG) memang ada potensi hujan, tapi itu sangat lokal dan kondisinya ringan. Itu pun baru prakiraan kita," kata Kosasih di Tanjungpinang, Selasa.
Ia menegaskan selama kondisi di Kalimantan masih terbakar cukup masif, dampaknya tetap akan terasa di Kepri. Karena itu BMKG meminta warga waspada dan mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Selain gangguan pernapasan, kabut asap pekat memperpendek jarak pandang pengendara. Kosasih mengingatkan kondisi itu meningkatkan risiko kecelakaan di jalan.
"Jarak pandang yang terbatas akibat asap pekat juga meningkatkan risiko kecelakaan, makanya tetap waspada dan kurangi kecepatan berkendara," ujarnya.
BMKG juga mengimbau masyarakat membatasi kegiatan di luar ruangan dan selalu memakai masker saat harus beraktivitas di luar rumah. Warga diminta mengecek kondisi kesehatan dan segera mencari pertolongan bila mengalami sesak napas akibat kabut asap.
Menjaga pola hidup sehat dan minum air putih cukup juga disarankan agar terhindar dari dehidrasi selama paparan asap berlanjut.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Tanjungpinang Teguh Susanto menyatakan indeks kualitas udara saat ini tidak sehat bagi kelompok sensitif. Kelompok itu meliputi bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit kronis.
"Indeks kualitas udara saat ini tidak sehat bagi kelompok sensitif, seperti bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit kronis. Kurangi aktivitas di luar ruangan dan gunakan masker," kata Teguh.
Pemkot Tanjungpinang menerapkan pembelajaran daring bagi siswa PAUD, TK, SD, sampai SMP pada 15-18 September 2026. Kebijakan itu diambil sebagai respons atas memburuknya kualitas udara akibat kabut asap.
Warga Perumahan Kijang Kencana 3, Agung, mengaku jarak pandang saat berkendara terganggu kabut asap. Ia memilih memakai masker ketika bepergian dengan sepeda motor karena kualitas udara berisiko mengganggu pernapasan.
"Kami berharap pemerintah ikut membantu warga menghadapi kondisi kabut asap, salah satunya dengan menyediakan masker gratis," kata Agung.
Kabut asap mulai menyelimuti beberapa wilayah Kepri, termasuk Tanjungpinang dan Bintan, sejak Senin (14/9). Kondisi udara yang memburuk membuat Pemkot Tanjungpinang menaruh perhatian serius pada penanganan dampaknya bagi warga.