Yield US Treasury 10 Tahun Tembus 5,02%, SBN RI Dinilai Tetap Aman

Penulis: Maruli Sinaga  •  Kamis, 17 September 2026 | 11:36:31 WIB

KEPULAUAN RIAU — Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik ke level 5,0210 persen, tertinggi sejak 2007. Kenaikan yield obligasi global itu diperkirakan berdampak terbatas pada Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia karena aliran dana asing masih masuk. Per 7 September 2026, dana asing senilai USD1,6 miliar tercatat mengalir ke pasar keuangan domestik.

Pasar keuangan Amerika Serikat dikejutkan oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah pada awal pekan ini. Yield US Treasury tenor 10 tahun menembus level 5,0210 persen, rekor tertinggi sejak 2007. Tren serupa terjadi di Jepang, tempat imbal hasil obligasi pemerintah (JGB) bertenor 10 tahun menembus 3,025 persen, level tertinggi dalam 30 tahun terakhir.

ASEAN Economist UOB Enrico Tanuwidjaja memperkirakan kenaikan yield obligasi AS akan berpengaruh pada imbal hasil SBN, tetapi tidak sebesar yang terjadi di Amerika Serikat. "Tetapi tidak akan seperti di Amerika, karena aliran dana (asing) sedang masuk," kata Enrico dalam diskusi UOB Media Editor Circle, di Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Dana Asing Masih Deras Masuk ke Pasar Domestik

Catatan UOB menunjukkan dana senilai USD1,6 miliar masuk ke pasar keuangan Indonesia per 7 September 2026. Arus masuk modal itu menahan dampak kenaikan yield obligasi AS terhadap SBN. Pasar obligasi domestik pun tidak mengalami tekanan jual yang signifikan.

Penguatan rupiah turut memperkuat posisi aset Indonesia. Mata uang domestik menguat sekitar 2,1 persen dalam tiga bulan terakhir dan 1,3 persen dalam sebulan terakhir. Tekanan eksternal dinilai lebih terkelola seiring kembalinya kapital ke pasar keuangan.

Mengapa SBN Tidak Ikut Terjun Bebas

Kenaikan yield US Treasury biasanya memicu capital outflow dari negara berkembang. Investor cenderung memindahkan dana ke aset berdenominasi dolar yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Namun, kondisi kali ini berbeda karena arus dana asing justru mengalir masuk ke Indonesia.

Enrico menilai kombinasi arus masuk modal dan penguatan rupiah membuat dampak kenaikan yield obligasi AS tidak signifikan terhadap SBN. Pasar obligasi domestik masih punya bantalan dari likuiditas asing yang masuk.

Yang Perlu Dicermati Investor SBN

Meski dampak dinilai terbatas, investor tetap perlu memantau arah yield US Treasury dalam beberapa pekan ke depan. Level 5,0210 persen adalah titik tertinggi sejak 2007, dan kenaikan lanjutan bisa mengubah kalkulasi imbal hasil di pasar global.

Bagi pemegang SBN, penguatan rupiah memberi keuntungan tambahan dari sisi selisih kurs. Imbal hasil yang diterima dalam rupiah menjadi lebih menarik dibandingkan aset dolar jika tren penguatan berlanjut.

UOB mencatat penguatan rupiah 2,1 persen dalam tiga bulan terakhir sebagai bukti tekanan eksternal lebih terkelola. Arus kapital yang kembali masuk menjadi indikator bahwa investor asing masih melihat pasar keuangan Indonesia sebagai tujuan yang layak.

Reporter: Maruli Sinaga
Sumber: idxchannel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top