Merger PT PP dan Adhi Karya Dikebut, Danantara Target Rampung 2026

Penulis: Binsar Gultom  •  Jumat, 02 Oktober 2026 | 14:07:31 WIB
Danantara menargetkan merger PT PP dan Adhi Karya rampung pada 2026.

KEPULAUAN RIAU — Danantara menargetkan merger PT PP (Persero) Tbk dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk rampung tahun ini, menjadi konsolidasi BUMN Karya paling cepat dieksekusi. Dua perusahaan itu dinilai paling siap digabung sebelum Danantara menyentuh Waskita Karya dan Wijaya Karya yang butuh restrukturisasi utang lebih dulu.

Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria menyatakan penggabungan PT PP dan Adhi Karya menjadi prioritas karena struktur keuangan kedua perusahaan relatif lebih mudah disatukan dibanding emiten konstruksi pelat merah lainnya. Setelah PTPP dan ADHI, giliran PT Brantas Abipraya dan PT Nindya Karya yang akan dikonsolidasikan.

Pernyataan itu disampaikan Dony di Tribrata Hotel, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Ia menyebut empat perusahaan tersebut sengaja didahulukan sebelum Danantara menangani BUMN Karya yang butuh perbaikan fundamental lebih dalam.

PTPP dan Adhi Karya Dinilai Paling Siap Digabung

Dony menegaskan urutan merger disusun berdasarkan tingkat kesulitan. PTPP, Adhi Karya, Brantas Abipraya, dan Nindya Karya masuk kategori yang bisa langsung dieksekusi tanpa restrukturisasi besar.

"(PTPP & ADHI) Ini akan paling cepat. Dulu saya sampaikan juga ke publik bahwa merger PP, Adhi Karya, kemudian Brantas dan Nindya Karya ini akan kita selesaikan. Ini yang paling mudah untuk dilakukan mergernya," kata Dony.

Bagi investor, urutan ini memberi sinyal bahwa aksi korporasi pada PTPP dan ADHI berpotensi lebih dulu bergulir ketimbang emiten karya lain yang masih berjuang keluar dari tekanan utang.

Waskita dan Wika Harus Bereskan Utang Lebih Dulu

Dua emiten konstruksi lain, PT Waskita Karya (Persero) Tbk dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, belum bisa langsung masuk skema merger. Danantara masih harus merestrukturisasi keduanya, termasuk memangkas beban utang dan menjual sebagian aset.

Dony menyebut WIKA dan Waskita sebagai dua perusahaan yang paling menantang. Sementara PT Hutama Karya (Persero) dinilai relatif sehat sehingga tidak memerlukan perlakuan khusus.

"Restrukturisasi itu ada WIKA, Waskita, terutama sekali WIKA dan Waskita. Kalau Hutama Karya, mereka relatif sehat. Jadi, hanya WIKA, Waskita yang akan menjadi persoalan karena membutuhkan effort kita untuk melakukan restrukturisasi, divestasi aset mereka, menurunkan hutangnya," ujarnya.

Merger Asuransi Pelat Merah Dikejar Rampung Akhir 2026

Selain sektor konstruksi, Danantara menyiapkan konsolidasi perusahaan asuransi milik negara. Prosesnya mencakup tiga lini bisnis yang akan digabung secara bertahap.

  • Asuransi jiwa (life insurance) menjadi lini pertama yang akan digabung.
  • Asuransi umum (general insurance) menyusul setelahnya.
  • Asuransi kredit (credit insurance) menjadi tahap terakhir konsolidasi.

"Merger asuransi juga sedang terjadi. Dan akhir tahun ini sudah harus terjadi. Terutama dari life insurance, kita akan go, kemudian general insurance juga, dan yang terakhir credit insurance. Ini kita harapkan akhir tahun sudah selesai," kata Dony.

Apa Artinya bagi Pasar dan Pemegang Saham

Rencana merger ini menempatkan Danantara sebagai motor konsolidasi BUMN, bukan hanya pengelola investasi. Bagi pemegang saham PTPP dan ADHI, kejelasan urutan merger menjadi katalis yang perlu dicermati, terutama soal rasio tukar saham dan struktur entitas hasil penggabungan yang belum diumumkan.

Di sisi lain, restrukturisasi WIKA dan Waskita tetap menjadi pekerjaan rumah terbesar. Kedua emiten itu harus menuntaskan divestasi aset dan penurunan utang sebelum bisa masuk skema serupa, sehingga timeline-nya bergantung pada progres perbaikan neraca masing-masing.

Danantara belum merinci nilai transaksi maupun skema pembentukan entitas hasil merger. Pasar menunggu detail resmi sebelum menilai dampaknya terhadap kapitalisasi pasar dan posisi kompetisi BUMN Karya di proyek infrastruktur nasional.

Reporter: Binsar Gultom
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top