UMRAH Tanjungpinang Susun Panduan Penggunaan AI, Dosen dan Mahasiswa Diminta Tetap Kritis

Penulis: Topan Lubis  •  Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:31:02 WIB
Rektor UMRAH Agung Dhamar Syakti berbicara dalam kuliah umum FKIP UMRAH bertajuk "Peta Navigasi Etis: Generative AI & Human Agency" di Tanjungpinang.

TANJUNGPINANG — Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) tengah menyiapkan panduan khusus penggunaan kecerdasan buatan bagi seluruh sivitas akademika. Regulasi tersebut dikoordinasikan melalui Wakil Rektor I dan diharapkan memberi batasan sekaligus arahan penggunaan AI dalam kegiatan akademik.

Rencana itu mengemuka dalam kuliah umum FKIP UMRAH bertajuk "Peta Navigasi Etis: Generative AI & Human Agency". Acara berlangsung di Hall Gurindam A, Gedung Ismeth Abdullah, Kampus UMRAH Tanjungpinang, Kamis 15 Oktober 2026, dengan Deny Kurniawan sebagai narasumber.

Deny membahas penggunaan AI generatif dalam pendidikan serta menekankan pentingnya manusia tetap memegang kendali atas teknologi. Ia mengingatkan AI semestinya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti kemampuan berpikir mahasiswa.

AI Dinilai Berisiko Kosongkan Proses Berpikir Mahasiswa

Menurut Deny, pendidikan tinggi tidak hanya menuntut mahasiswa memperoleh jawaban, tetapi juga memahami proses dan alasan di balik jawaban tersebut. Jika seluruh tugas akademik diserahkan kepada AI, ia menilai hasilnya berisiko kehilangan kedalaman.

"AI itu posisinya adalah kopilot atau alat bantu, sementara manusia harus tetap memegang kendali sebagai pilot dan pengambil keputusan. Jika seluruh tugas akademik diserahkan sepenuhnya kepada AI, hasilnya akan terasa 'kosong' tanpa jiwa, bahkan berisiko memicu halusinasi informasi tanpa fakta pendukung," tegas Deny.

Ia juga menyoroti potensi AI menghambat kreativitas dan kemampuan berpikir kritis jika digunakan tanpa pertimbangan matang. Mahasiswa diminta memeriksa kembali informasi yang dihasilkan AI sebelum menggunakannya.

Menurut Deny, kampus perlu menetapkan aturan yang jelas agar pemanfaatan teknologi tidak mengganggu proses pembelajaran. "Jadikan AI sebagai mitra diskusi atau sarana untuk menguji pemikiran kita, bukan pengendali diri kita," tambahnya.

Rektor: Dosen Dituntut Jadi Inspirator, Bukan Sekadar Penyampai Materi

Rektor UMRAH Agung Dhamar Syakti menilai perkembangan teknologi tidak bisa dihindari, tetapi perguruan tinggi wajib memastikan penggunaannya tepat. Perkembangan AI turut mengubah peran dosen di ruang kelas.

Ia menyebut dosen tidak cukup hanya menyampaikan materi atau hasil riset yang pada dasarnya juga bisa dianalisis AI. Dosen dituntut mampu mendorong kreativitas dan membangun budaya berpikir kritis di kalangan mahasiswa.

"Teknologi berkembang sangat masif. Saat ini dosen dituntut tidak hanya menyampaikan materi teks atau riset semata yang pada dasarnya juga bisa digantikan atau dianalisis oleh AI tetapi dosen harus mampu menjadi inspirator. Dosen yang inspiratif adalah yang mampu memantik kreativitas, membangun ekosistem kolaboratif, serta mendorong pemikiran kritis para mahasiswa," ujar Agung.

Agung juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan kemudahan memperoleh informasi sebagai alasan melewati proses belajar. Menurutnya, tujuan kuliah tidak sebatas mengejar nilai atau ijazah.

"Ada banyak cara untuk mendapatkan nilai bagus. Namun, tujuan utama kuliah bukan sekadar berburu nilai atau ijazah, melainkan membentuk keilmuan, kebijaksanaan, dan integritas. Mahasiswa harus memiliki kemandirian belajar, menguji sendiri pengetahuan yang didapat, dan memanfaatkan AI untuk memperluas wawasan bukan untuk memintas proses belajar itu sendiri," tegasnya.

Apa Isi Panduan AI yang Disiapkan UMRAH?

Panduan penggunaan AI di UMRAH tengah disusun untuk memberikan batasan sekaligus arahan bagi dosen dan mahasiswa. Regulasi itu diharapkan memastikan pemanfaatan teknologi tetap memperhatikan etika serta integritas akademik.

"Kita tidak menolak kemajuan teknologi, karena AI dapat mempercepat analisis dan membantu melihat gambaran besar. Namun, kami ingin memastikan pemanfaatannya tetap terarah agar memberi manfaat tanpa mengikis empat kompetensi dasar mahasiswa serta menjaga integritas akademik," ujar Agung.

Melalui panduan tersebut, UMRAH berharap sivitas akademika dapat menggunakan AI secara bertanggung jawab. Kampus juga ingin memastikan teknologi tetap memperkuat kemampuan berpikir, kreativitas, dan kemandirian mahasiswa.

Reporter: Topan Lubis
Sumber: ulasan.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top