JAKARTA — Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menyarankan investor untuk mulai melirik strategi dividend investing di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi. Menurutnya, momentum sulit menghasilkan capital gain dalam jangka pendek membuat dividen menjadi alternatif yang menarik.
"Investor setidaknya masih memperoleh cash return melalui dividen sambil mengakumulasi saham-saham berkualitas pada valuasi yang jauh lebih murah dibanding beberapa bulan lalu," kata Liza dalam kajiannya, Selasa.
Dari Global: Harapan Damai dan Ancaman Perang Kembali
Pasar merespons positif dorongan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mencapai gencatan senjata antara Iran dan Israel. Trump menegaskan negosiasi damai dengan Iran masih berlangsung dan blokade AS terhadap Iran akan tetap berlaku hingga ada kesepakatan final soal program nuklir.
Meski begitu, situasi di Timur Tengah masih rapuh. Iran mengancam akan kembali menyerang jika Israel melanjutkan operasi terhadap Hezbollah di Lebanon, sementara Israel berjanji merespons dengan "great force" jika diserang lagi.
Harga minyak mentah global bergerak melemah. Minyak jenis WTI turun 0,46 persen ke level 90,88 dolar AS per barel, dan Brent turun 0,35 persen ke level 93,92 dolar AS per barel.
Data Inflasi AS dan Sikap The Fed Jadi Fokus Pekan Ini
Pelaku pasar kini menanti data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini. Consumer Price Index (CPI) Mei 2026 dijadwalkan keluar Rabu, disusul Producer Price Index (PPI) pada Kamis.
Setelah data NonFarm Payrolls (NFP) Mei 2026 melampaui ekspektasi, ekspektasi pemangkasan suku bunga semakin meredup. Goldman Sachs bahkan menunda proyeksi pemangkasan suku bunga The Fed hingga 2027 dan menaikkan probabilitas kenaikan suku bunga menjadi 20 persen dari sebelumnya 10 persen.
Goldman Sachs memperkirakan inflasi Core PCE tetap di atas 3 persen sepanjang 2026 akibat kombinasi tarif perdagangan, harga energi yang tinggi, dan permintaan AI yang kuat.
Tekanan dari Eropa dan Terkikisnya Cadangan Devisa RI
Dari Eropa, investor khawatir lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah dapat memaksa European Central Bank (ECB) mengambil sikap lebih hawkish pada pertemuan pekan ini. Pasar memperhitungkan kemungkinan hingga tiga kali kenaikan suku bunga ECB sebelum akhir tahun.
Sementara itu, cadangan devisa Indonesia turun menjadi 144,9 miliar dolar AS pada akhir Mei 2026, dari sebelumnya 146,2 miliar dolar AS pada April 2026. Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan selama lima bulan berturut-turut sejak mencapai puncak 156 miliar dolar AS pada Desember 2025.
Penyebab utamanya adalah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi Bank Indonesia untuk menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah volatilitas pasar global. Meski turun, posisi cadangan devisa saat ini masih setara 5,6 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sebesar tiga bulan impor.