KEPULAUAN RIAU — Kabar pailitnya PT MNDG ini terungkap dalam laporan keuangan Telkom yang berakhir pada 30 Juni 2026. Sebelumnya, pada 26 Januari 2026, pengadilan yang sama telah menetapkan status PKPU atas MNDG. Baru kemudian di bulan Mei, status hukum tersebut berlanjut menjadi kepailitan. MNDG sendiri merupakan anak usaha dengan komposisi saham 55 persen milik Telkom yang fokus pada jasa konsultasi perangkat keras dan lunak komputer, pengelolaan pusat data (data center), hingga internet exchange. Perusahaan ini tercatat mulai beroperasi komersial sejak 2012.
Hingga berita ini diturunkan, manajemen Telkom belum memberikan pernyataan resmi terkait dampak hukum dan operasional pasca-pailitnya MNDG. Vice President Corporate Communication Telkom, Andri Herawan Sasoko, belum merespons konfirmasi yang dilayangkan.
Portofolio Bisnis Telkom: Efisiensi di Tengah Tekanan Hukum
Kepailitan MNDG terjadi di tengah gencarnya Telkom melakukan perampingan struktur bisnis. Berdasarkan catatan analis Stockbit Sekuritas, hingga akhir kuartal II-2026, Telkom telah mengantongi hasil dua divestasi, dua merger, dan menutup delapan unit bisnis yang dinilai tidak lagi strategis.Dari aksi korporasi tersebut, divestasi dua entitas kesehatan, yakni AdMedika dan Telkomedika, berhasil menyumbangkan keuntungan setelah pajak sekitar Rp 429 miliar. Target manajemen hingga akhir tahun ini pun masih panjang: enam divestasi, dua merger, dan empat penutupan unit bisnis lainnya masih dalam proses.
Khusus untuk lini data center, Telkom bukannya menarik diri sepenuhnya. Manajemen menyatakan masih membuka peluang mencari mitra strategis. Proses yang mereka sebut sebagai value unlocking ini ditargetkan rampung sebelum akhir tahun, sebuah sinyal bahwa Telkom tidak tinggal diam meski salah satu entitasnya tengah berurusan dengan hukum.
Kinerja Keuangan Tetap Solid: Laba Rp 10,6 Triliun
Di tengah hiruk-pikuk restrukturisasi, kinerja keuangan Telkom justru menunjukkan tren positif. Pada paruh pertama 2026, emiten telekomunikasi pelat merah ini membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 10,6 triliun. Angka ini naik 1,4 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.Pendapatan konsolidasi pun ikut tumbuh 3,9 persen secara tahunan menjadi Rp 75,9 triliun. EBITDA naik 3,8 persen ke level Rp 37,5 triliun. Jika dihitung tanpa item-item luar biasa, laba bersih yang dinormalisasi mencapai Rp 11,3 triliun, tumbuh lebih tinggi yakni 6,2 persen.
Mesin utama pertumbuhan masih dipegang oleh Telkomsel. Pada segmen B2C yang mencakup layanan seluler dan fixed broadband, pendapatan Telkomsel tumbuh 3,3 persen menjadi Rp 55,6 triliun. Pendapatan dari layanan digital (Digital Business Data) tercatat melesat 11 persen, seiring dengan kenaikan ARPU (pendapatan rata-rata per pengguna) mobile sebesar 9 persen menjadi Rp 45.600.
Namun, ada catatan menarik dari lini IndiHome. Jumlah pelanggannya turun dari 10,1 juta menjadi 9,5 juta pelanggan. Meski begitu, ARPU IndiHome justru naik 3,4 persen secara kuartalan menjadi Rp 211.000, dan rasio konvergensi layanan meningkat ke angka 65 persen. Artinya, Telkom berhasil menaikkan nilai transaksi per pelanggan di tengah penurunan jumlah pelanggan, sebuah strategi yang kerap dipakai untuk menjaga profitabilitas.
Kepailitan MNDG memang menjadi catatan hukum baru bagi Telkom, tetapi secara fundamental, kinerja keuangan perusahaan masih berada di jalur yang stabil. Investor dan publik kini menunggu langkah lanjutan manajemen, terutama soal masa depan aset data center mereka dan bagaimana strategi kemitraan yang dijanjikan rampung akhir tahun ini.