Pencarian

IHSG Melemah 0,43% ke 6.038, Asing Net Sell Rp 1,5 Triliun di Awal Oktober

Senin, 05 Oktober 2026 • 14:07:01 WIB
IHSG Melemah 0,43% ke 6.038, Asing Net Sell Rp 1,5 Triliun di Awal Oktober
IHSG ditutup melemah 0,43% ke level 6.038 pada perdagangan awal Oktober 2026.

KEPULAUAN RIAU — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,43% ke level 6.038 pada perdagangan awal Oktober 2026, menempuh tiga sesi berturut-turut di zona merah. Aksi jual bersih investor asing mencapai Rp 1,5 triliun, memutus pola musiman yang biasanya menghadirkan penguatan rata-rata 1,15% setiap Oktober.

Tekanan jual dari investor asing mendominasi perdagangan saham domestik sejak awal bulan. Berdasarkan data Bloomberg, IHSG terperosok ke posisi 6.038 pada Senin (5/10/2026) setelah tiga sesi perdagangan gagal menembus area positif.

Angka net sell Rp 1,5 triliun menjadi sinyal bahwa pelaku pasar global masih menimbang ulang eksposur mereka di pasar negara berkembang. Posisi itu kontras dengan catatan historis sepuluh tahun terakhir yang menunjukkan IHSG konsisten menguat di bulan Oktober.

Rata-Rata Penguatan 1,15% yang Kini Sulit Diulang

Data seasonality Bloomberg mencatat IHSG membukukan kenaikan rata-rata 1,15% sepanjang Oktober selama satu dekade terakhir. Pola itu terbentuk dari sejumlah periode penguatan besar yang terjadi di bulan yang sama.

Oktober 2020 menjadi bulan terbaik dengan lonjakan 5,3%, disusul Oktober 2021 sebesar 4,84% saat ekonomi global mulai pulih dari tekanan pandemi Covid-19. Pada Oktober 2017, IHSG juga mencatat apresiasi 1,78%, sementara Oktober 2025 ditutup menguat 1,28% secara point-to-point.

Rangkaian data itu membentuk ekspektasi musiman yang kuat di kalangan pelaku pasar. Namun, kondisi tahun ini berjalan berlawanan arah sejak hari pertama perdagangan Oktober.

Tekanan Asing dan Faktor yang Membedakan Tahun Ini

Derasnya aliran keluar modal asing menjadi pembeda utama dibandingkan pola Oktober sebelumnya. Tekanan ini muncul saat pelaku pasar global masih mencermati arah kebijakan suku bunga dan pergerakan nilai tukar regional.

Pada Oktober 2020 dan 2021, penguatan IHSG ditopang oleh gelombang likuiditas global pasca-recovery pandemi. Suntikan stimulus dari bank sentral negara maju kala itu mendorong dana asing masuk ke pasar emerging market, termasuk Indonesia.

Kondisi sekarang berbeda. Investor asing cenderung memilih menahan posisi atau mengurangi bobot saham di negara berkembang sembari menunggu kejelasan arah kebijakan moneter global.

Seberapa Dalam Koreksi Bisa Berlanjut

Pergerakan IHSG dalam beberapa sesi ke depan akan sangat bergantung pada apakah tekanan jual asing mereda atau justru berlanjut. Level 6.000 menjadi area psikologis yang bakal diuji jika net sell masih deras.

Bagi investor ritel, pelemahan ini bisa menjadi kesempatan akumulasi pada saham-saham berfundamental kuat yang harganya tertekan. Namun, risiko koreksi lanjutan tetap terbuka selama sentimen global belum membaik.

Pelaku pasar juga mencermati rilis data ekonomi domestik dan arah kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Kedua faktor itu akan menentukan apakah IHSG mampu membalikkan arah sebelum Oktober berakhir.

Follow batamdaily.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: bloombergtechnoz.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks