KEPULAUAN RIAU — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 11,57% ke level 5.185,10 pada 16 Oktober 2026, dipicu konsultasi MSCI soal kemungkinan menurunkan klasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Tekanan berlanjut pada Senin (19/10) dengan pelemahan tambahan 3,64% ke 4.996,61. Investor asing tercatat membukukan penjualan bersih Rp 98,35 triliun sejak awal tahun hingga awal November 2026.
Konsultasi yang dibuka penyedia indeks global MSCI menjadi pemicu gelombang aksi jual di Bursa Efek Indonesia. Rencana penurunan status pasar Indonesia dari emerging market ke standalone market membuat investor asing mempercepat pelepasan portofolio saham domestik.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) berupaya menahan tekanan. Pada 20 Oktober, keduanya mengumumkan langkah antisipasi, salah satunya mengeluarkan daftar 82 saham dengan kepemilikan terkonsentrasi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan bobot IHSG yang berlaku 2 November. Pasar sempat berbalik hijau beberapa hari setelah pengumuman, tetapi gelombang jual kembali datang.
Net Sell Asing Capai Rp 98,35 Triliun Sejak Awal Tahun
BEI mencatat investor asing membukukan net foreign sell Rp 98,35 triliun sejak awal tahun hingga awal November 2026. Dari 13 sesi perdagangan pada 16 Oktober sampai 3 November, asing mencatat net sell di 11 sesi dengan total pelepasan sekitar Rp 13,76 triliun.
Arus keluar dana yang panjang itu memperlihatkan tekanan jual tidak hanya dipicu sentimen MSCI. Ada pola sistematis pelepasan saham oleh investor global yang berlangsung berbulan-bulan.
Imbauan Pemerintah agar Investor Domestik Tetap Percaya Diri
Di tengah derasnya arus keluar, muncul imbauan dari pemerintah kepada investor domestik. OJK dan pejabat terkait menyatakan pasar saham Indonesia masih ditopang fundamental kuat sehingga tidak akan terpengaruh tekanan asing.
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyerukan investor lokal menunjukkan kekuatan di pasar saham. Ia menilai pasar saham RI tidak bergantung pada investor global dan menyerukan aksi #BuyIndonesia.
"Di Bursa kita, bersama akan kita buat dan tentukan rating kita sendiri," tulis Dasco seperti dikutip dari akun Instagram pribadinya Kamis (5/11).
Tujuh dari Sepuluh Emiten Bobot Besar Dikuasai Asing
Seruan itu berhadapan dengan struktur kepemilikan saham yang masih didominasi modal asing. Merujuk data kepemilikan di atas 5% per 30 Oktober 2026, investor asing menguasai mayoritas saham pada tujuh dari sepuluh emiten berkapitalisasi besar penopang IHSG.
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM): kepemilikan asing 76,96%
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): 66,79%
- PT Astra International Tbk (ASII): 66,11%
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): 54,51%
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): 53,53%
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI): 51,93%
Data KSEI menunjukkan empat bank besar dengan bobot signifikan terhadap IHSG seluruhnya memiliki porsi asing di atas 50%. Jika investor asing menjual saham-saham itu secara bersamaan, tekanan terhadap indeks bisa sangat besar.
Reksa Dana Asing Jadi Pemegang Terbesar di Empat Bank Besar
Pola kepemilikan terlihat berbeda saat struktur saham dibedah per kelompok investor. Pada empat bank besar, investor individu menjadi kelompok domestik terbesar dalam data yang tersedia. Di sisi asing, reksa dana menempati posisi pemegang saham terbesar.
Pada sejumlah emiten lain, porsi terbesar investor domestik justru berada di tangan korporasi, antara lain pada AMMN, SMMA, dan CASA. Tingginya porsi kepemilikan domestik pada suatu saham belum tentu menunjukkan besarnya pasokan saham yang tersedia untuk menahan tekanan jual.
Pertanyaan yang tersisa: seberapa kuat investor lokal mampu menjadi penyangga ketika modal asing terus mengalir keluar dari pasar saham Indonesia.