BATAM — Kwin Fo menyampaikan keterangan itu hampir sepekan setelah gangguan terjadi. Dalam rilis di lantai 5 Gedung PLN Batam, perusahaan hanya menampilkan rekaman hewan primata yang kerap terpantau CCTV di area gardu.
Namun menurut Kwin, hewan liar itu baru terlihat sekitar pukul 11.30 WIB, beberapa jam setelah gangguan terjadi pada pagi hari. Petugas yang mengecek lokasi usai kejadian tidak menemukan hewan tersebut.
Primata Baru Muncul Pukul 11.30 WIB, Setelah Gangguan
Kwin menjelaskan kronologi kemunculan hewan itu. Saat tim lain turun ke lokasi pada pukul 11.30, hewan liar terlihat terduduk di bawah trafo dalam keadaan lemas dan luka bakar.
"Ketika petugas melakukan pengecekan pada pagi hari usai kejadian, hewan liar itu tidak ada, kita tidak melihat. Tapi di jam 11.30 saat tim lain turun ke lokasi ada hewan liar baru melihat ada hewan liar terduduk di bawah trafo dalam keadaan lemas dan luka bakar," ujar Kwin.
Ia menegaskan kemunculan hewan itu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa primata tersebut pemicu percikan api di peralatan gardu. "Jujur dari pihak kita, kita belum begitu meyakini kalau hewan liar tersebut yang menyebabkan percikan api," katanya.
Penjelasan ini berbeda dengan keterangan Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia yang sebelumnya menyinggung jenis hewan liar yang dimaksud, yakni kelelawar.
Rekaman CCTV Tidak Menangkap Titik Trafo yang Diduga Bermasalah
Persoalan lain muncul dari kamera pengawas. Kwin mengatakan PLN Batam tidak bisa melihat langsung kondisi trafo yang diduga mengalami gangguan karena posisi trafo terekam dari arah berlawanan.
Rekaman CCTV yang menunjukkan jelas area sekitar trafo masih dibutuhkan untuk memastikan apakah hewan liar benar masuk ke titik tersebut. Hanya ada satu rekaman CCTV yang merekam sebagian peristiwa, namun arahnya mengarah ke luar pagar kawasan gardu sehingga tidak menunjukkan peristiwa secara keseluruhan.
Pergeseran CCTV Diduga Bukan Ulah Hewan Liar
Di tengah penelusuran itu, pergeseran posisi CCTV di sekitar gardu ikut menjadi perhatian. Berdasarkan pemahamannya, Kwin menduga pergeseran itu bukan ulah hewan liar dan mengarah pada campur tangan manusia.
Kendati begitu, Kwin menolak melangkah lebih jauh. Ia tidak ingin berspekulasi apakah pergeseran itu disengaja atau terkait sabotase.
"Saya tidak mungkin mendahului pihak berwajib. Karena pihak berwajib masih melakukan pendalaman dan pemeriksaan," ujarnya.
Sikap hati-hati itu, kata Kwin, diambil agar PLN Batam tidak keliru menyampaikan penyebab. "Kita tidak ingin mendahului. Nanti takutnya kita menyampaikan benar hewan ini, tapi nanti dari pihak berwajib bilangnya berbeda. Karena kita tidak menyaksikan masalahnya," jelasnya.
Warga dan Dunia Usaha Batam Masih Menanti Kepastian
Hingga kini, pertanyaan besar masih menggantung: apa yang sebenarnya memicu percikan api di gardu induk, siapa yang menggeser posisi CCTV, dan mengapa blackout sebesar itu bisa terjadi. Jawabannya menunggu hasil penyelidikan aparat penegak hukum.
Sementara itu, masyarakat dan dunia usaha Batam yang terdampak masih menanti kepastian ihwal penyebab gangguan yang melumpuhkan pasokan listrik pada Senin 12 Oktober 2026 tersebut.