KEPULAUAN RIAU — Latihan militer China kembali menjadi sorotan. Kali ini, sebuah skenario yang tidak biasa diunggah media pemerintah, menunjukkan prajurit PLA menghitung tumpukan uang kertas Dolar AS, Dolar Taiwan Baru (NT$), dan emas batangan yang baru saja diantarkan lewat udara menggunakan drone.
Momen tersebut terekam dalam latihan yang digambarkan sebagai simulasi dukungan finansial masa perang. Kehadiran mata uang Taiwan dalam latihan ini menjadi sinyal paling kuat bahwa skenario yang disiapkan menyasar operasi di sekitar Pulau Taiwan.
Dalam situasi perang, sistem perbankan dan transaksi digital biasanya menjadi korban pertama yang lumpuh. Militer membutuhkan alat pembayaran yang diterima secara universal untuk membayar pasokan logistik, jasa intelijen, atau kompensasi kerusakan di lapangan.
Emas batangan dan Dolar AS adalah dua instrumen yang paling likuid dan diakui nilainya di hampir seluruh dunia. Sementara itu, kehadiran pecahan NT$1.000 dalam kotak yang sama mengindikasikan adanya perencanaan untuk bertransaksi langsung dengan penduduk setempat jika pasukan dikerahkan di Taiwan.
Foto-foto yang beredar memperlihatkan peti kayu dengan emblem PLA bertuliskan "Kantor Penyelesaian No. 4" dan "Pusat Manajemen Penerimaan dan Pembayaran Terpusat Nanjing". Kotak-kotak itu kemudian dibawa menggunakan drone multi-rotor melintasi lapangan menuju posisi prajurit yang menunggu.
Setibanya di tujuan, prajurit berseragam kamuflase langsung membongkar isi peti dan melakukan verifikasi jumlah fisik. Adegan ini menegaskan bahwa prosedur penghitungan manual tetap menjadi protokol utama meski pengiriman dilakukan secara modern.
Hingga berita ini diturunkan, pihak militer China belum mengonfirmasi apakah uang dan emas yang digunakan dalam latihan tersebut adalah asli atau sekadar properti latihan. Laporan awal dari media pertahanan China yang memberitakan latihan ini justru telah dihapus setelah memicu perdebatan sengit di media sosial setempat.
Latihan ini membuka jendela kecil ke arah perencanaan militer China yang tidak hanya mencakup strategi senjata dan pergerakan pasukan. Adanya simulasi pembayaran tunai menunjukkan para perencana militer memikirkan skenario pendudukan jangka pendek yang membutuhkan interaksi ekonomi dengan warga sipil.
Beijing selama ini konsisten menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak pernah menutup kemungkinan penggunaan kekuatan untuk reunifikasi. Di sisi lain, Amerika Serikat tetap berkomitmen memasok senjata untuk pertahanan Taiwan di bawah kebijakan yang sudah berjalan lama.
Para analis yang memantau ketegangan lintas selat menilai latihan semacam ini bisa dibaca sebagai sinyal kesiapan Beijing terhadap kemungkinan terburuk. Namun, apakah latihan ini mencerminkan rencana operasional yang matang atau sekadar instrumen tekanan politik, masih menjadi perdebatan yang belum tuntas.