Pemerintah Kota Tanjungpinang menetapkan tujuh produk olahan hasil laut dan kuliner khas daerah sebagai produk unggulan untuk didorong menembus pasar nasional. Upaya ini dilakukan dengan memfasilitasi standar produksi dan membuka akses pemasaran melalui jaringan ritel modern seperti Indomaret.
TANJUNGPINANG — Tujuh produk unggulan UMKM asal Tanjungpinang, Kepulauan Riau, disiapkan untuk menembus pasar nasional. Produk yang terdiri dari olahan hasil laut hingga kuliner beku itu akan difasilitasi pemasaran melalui jaringan ritel modern, salah satunya Indomaret.
Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah menyatakan pihaknya kini tengah membahas standar produk yang dibutuhkan ritel nasional bersama para pelaku UMKM. Langkah ini menjadi pintu masuk agar produk lokal tidak lagi hanya beredar di pasar tradisional atau toko oleh-oleh, melainkan mampu bersaing di rak-rak minimarket seluruh Indonesia.
Produk yang ditetapkan sebagai unggulan daerah tersebut antara lain snack otak-otak, lakse frozen, otak-otak frozen, bilis kriuk, abon tongkol, sambal gonggong, dan abon gonggong. Seluruhnya merupakan olahan berbasis sumber daya laut yang menjadi ciri khas kuliner Tanjungpinang.
“Tugas pemkot ialah mempromosikan dan memfasilitasi produk-produk lokal supaya bukan sekadar dijual di tingkat lokal, tetapi bisa tembus ke pasar nasional,” kata Lis Darmansyah, Jumat.
Lis menyebut salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi pelaku UMKM adalah kemampuan produksi. Jika masuk ke pasar nasional, kebutuhan produk tidak lagi dalam jumlah ratusan kemasan, tetapi bisa mencapai ribuan.
“Kalau untuk nasional tidak mungkin hanya 100 atau 200 kemasan. Paling tidak 3.000 sampai 4.000 kemasan. Itu yang akan kita lihat, UMKM mana yang sudah bisa memproduksi secara massal,” ujarnya. Pemkot saat ini tengah memetakan pelaku usaha yang dinilai mampu memenuhi kebutuhan produksi tersebut.
Di sisi lain, pelaku UMKM sambal gonggong, Nurdatul Mar'ah, menyambut baik penetapan produknya sebagai unggulan daerah. Ia bersama kelompok usahanya selama ini memproduksi berbagai jenis sambal, termasuk sambal teri cabai hijau dan merah, sambal cumi, sambal ebi, rebon, serta sambal cakalang.
“Selama ini kami mandiri, kemudian ada pencanangan dari bapak wali kota untuk membuat makanan khas sebagai produk unggulan, maka dipilihlah sambal gonggong,” kata Nurdatul.
Ia berharap promosi yang lebih luas dapat membuat sambal gonggong semakin dikenal, tidak hanya di kegiatan pemerintah. Ia mencontohkan produknya pernah menjadi bagian dari bingkisan bagi tamu pada upacara 17 Agustus. “Jadi mungkin ke depannya kalau ada tamu dari luar, bisa membawa sambal ini sebagai oleh-oleh,” ujarnya.
Untuk pemasaran saat ini, produk UMKM tersebut lebih banyak dijual secara daring. Masyarakat yang ingin membeli dapat menghubungi pelaku usaha melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Tanjungpinang.