KEPULAUAN RIAU — Kepastian itu disampaikan Ceferin dalam siniar The Rest is Politics yang dikutip ESPN. Pria berusia 58 tahun itu mengaku punya dua alasan utama menolak maju, salah satunya karena ingin tetap fokus memimpin UEFA.
"Saya tidak tertarik karena dua alasan. Salah satunya karena saya mencintai UEFA dan senang bekerja di sini," kata Ceferin.
Kendati menolak maju, Ceferin tak menutup kemungkinan munculnya penantang lain. Ia menilai posisi Infantino saat ini tak lagi sekuat periode awal kepemimpinannya.
"Pilihan kedua adalah dia maju dalam pemilihan pada Maret, tetapi dalam kasus itu, saya pikir dia akan memiliki kandidat yang menentangnya," ujar Ceferin.
Menurut Ceferin, Infantino kini dihadapkan pada dua pilihan: menyadari dukungannya menipis atau bertahan dan menghadapi lawan. Ia juga mengaku belum mengetahui sosok yang bakal menjadi penantang dan belum berbicara dengan Infantino sejak kontroversi investasi mencuat.
Tekanan terhadap Infantino berawal dari rencana mencari investasi swasta untuk mengelola sejumlah turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia putra dan putri. Rencana ini memicu reaksi keras dari sejumlah konfederasi.
Tiga konfederasi sepak bola, UEFA, Concacaf, dan AFC, dilaporkan sempat mempertimbangkan mosi tidak percaya terhadap Infantino. Dukungan di Eropa pun mulai melemah. Inggris, Skotlandia, Wales, Irlandia Utara, dan Republik Irlandia disebut telah menarik dukungan mereka terhadap mantan Sekretaris Jenderal UEFA tersebut.
Ceferin membantah anggapan bahwa UEFA menentang FIFA demi kepentingan federasi dan klub-klub besar Eropa. Ia mengingatkan bahwa Infantino sendiri merupakan orang Eropa dan pernah mendapat dukungan UEFA saat terpilih sebagai Presiden FIFA pada 2016.
Pernyataan Ceferin ini menjadi sinyalemen kuat bahwa konflik antara UEFA dan FIFA memasuki fase baru jelang pemilihan presiden FIFA. Meski tak berniat mencalonkan diri, sikap Ceferin justru membuka ruang bagi figur lain untuk maju melawan Infantino.