KEPULAUAN RIAU — Kebangkitan nama klasik memang selalu menarik untuk disimak, apalagi ketika eksekusinya tidak main-main. Jensen International Automotive (JIA), perusahaan yang selama ini sibuk merestorasi Interceptor asli, tidak sekadar membuat mobil retro berpenampilan lawas. Mereka membangun sebuah mesin balap modern yang kebetulan menyandang nama ikonik. Interceptor GTX yang baru saja diumumkan penuh ini adalah bukti bahwa warisan bisa diolah dengan pendekatan kekinian, tanpa kehilangan jiwa aslinya.
Di balik kap aluminium yang panjang, tersimpan mesin yang tidak bisa dibilang setengah-setengah. Basisnya adalah unit LT-series dari General Motors, tapi jangan bayangkan ini mesin rakitan pabrik. Late Model Engines dari Texas melakukan reengineering total hingga kurang dari 20 persen komponen asli GM yang tersisa.
Kapasitas mesin dibesarkan menjadi 6.8 liter dengan tambahan supercharger Roots 2.7 liter berpendingin yang dikendalikan secara elektronik. Hasilnya, tenaga puncak mencapai 960 hp yang dikirim ke roda belakang, dengan kemampuan mesin yang sebenarnya sanggup digeber hingga 1.200 hp dan torsi lebih dari 1.000 pound-feet. Jensen mengklaim respons throttle-nya cepat dan distribusi tenaganya linear, berkat kontrol boost elektronik yang presisi. Komponen internal seperti kepala silinder CNC-machined dan katup titanium memang disiapkan untuk putaran mesin tinggi hingga 7.000 rpm.
Tenaga sebesar itu tidak mungkin disalurkan lewat komponen biasa. Interceptor GTX memakai transmisi sekuensial enam percepatan dari Samsonas Motorsport dengan straight-cut dog gears—jenis yang biasa dipakai mobil reli dan balap. Pengemudi bisa memindahkan gigi lewat paddle di belakang kolom kemudi atau tuas manual di konsol tengah. Tenaga mengalir ke gardan belakang melalui poros penggerak serat karbon yang terbungkus steel torque tube.
JIA belum mau mengumumkan bobot kendaraan, tapi mereka menekankan sasis aluminium all-monocoque yang kaku namun ringan. Suspensi memakai double wishbone aluminium dengan peredam manual tiga arah yang bisa disetel. Remnya cakram baja dengan pengaturan bias yang bisa diubah dari dalam kabin—fitur yang biasanya hanya ada di mobil balap sungguhan.
Proporsi khas Interceptor tetap dipertahankan: kap depan panjang, garis atap fastback, dan kaca belakang melengkung yang menjadi ciri khas mobil aslinya. Tapi detailnya dikerjakan ulang total oleh Avant Design, studio independen yang juga menggarap Longbow dan LEVC TX. Bodi aluminium dibentuk tangan oleh Coventry Metalcraft, dan hasilnya terlihat tajam dengan garis-garis tegas.
Bagian depan mengingatkan pada Chevy Camaro, sementara keseluruhan siluetnya punya nuansa mobil balap NASCAR Garage 56 yang tampil di Le Mans 2023—hanya saja lebih mewah. Lampu utama LED tersembunyi di balik celah tipis, dan atapnya dicat hitam kontras. Yang paling mencolok adalah sayap belakang adjustable yang bisa menghasilkan downforce hingga 771 pound—angka yang serius untuk mobil seukuran ini.
Masuk ke dalam, tidak ada yang perlu diragukan soal orientasi mobil ini. Roll cage bespoke bersertifikasi FIA, jok karbon Tillett, sabuk pengaman enam titik, dan sistem pemadam kebakaran terpasang standar. Layar digital di belakang kemudi menjadi satu-satunya instrumen, tanpa layar sentuh tengah yang biasanya jadi standar mobil modern. JIA tetap melapisi bagian interior dengan Alcantara dan jahitan oranye—sentuhan kecil yang mengingatkan bahwa ini masih mobil Jensen, bukan sekadar prototipe balap.
Aerodinamika juga menjadi perhatian utama. Splitter besar di bumper depan, saluran udara di belakang roda depan untuk membuang panas rem, dan diffuser raksasa di belakang dengan pipa knalpot oval di atasnya—semua elemen ini bekerja sama untuk menjaga mobil tetap menempel di aspal saat kecepatan tinggi.
Penting untuk dipahami posisi Interceptor GTX saat ini: JIA menyebutnya sebagai "enhanced prototype" yang tidak legal untuk jalan raya. Ini murni mobil trek, dan itu berarti konsekuensinya jelas—tidak ada kenyamanan berkendara harian, tidak ada bagasi luas, dan suara mesin yang pasti akan mengundang komplain tetangga.
Belum ada informasi soal bobot total, harga, atau jumlah unit yang akan diproduksi. JIA juga belum mengumumkan apakah GTX akan dijual ke publik atau hanya untuk kolektor tertentu. Yang jelas, mobil ini menjadi fondasi teknis bagi Interceptor GTR versi jalan raya yang sudah diperlihatkan gambar awalnya. Pertanyaannya kemudian: apakah versi jalan raya akan mempertahankan karakter liar mesin 960 hp ini, atau justru dijinakkan demi regulasi emisi dan kebisingan?
Untuk pasar Indonesia, mobil seperti ini hampir mustahil hadir resmi—belum bicara soal harga yang pasti menyentuh miliaran rupiah, regulasi emisi dan homologasi menjadi tembok yang sulit ditembus. Namun bagi penggemar otomotif tanah air, kehadiran Interceptor GTX setidaknya membuktikan satu hal: nama klasik bisa dihidupkan kembali dengan cara yang relevan, bukan sekadar nostalgia murahan.